Belajar Komunikasi Publik di Sekolah Relawan

Pada tanggal 20 April 2014 lalu, saya berkesempatan mengikuti worshop Sekolah Relawan (@SekolahRelawan) di ruang audio visual Museum Bank Mandiri. Sekolah Relawan merupakan sebuah komunitas yang mengadakan workshop rutin bagi relawan dari komunitas/lembaga manapun untuk belajar mengenai dunia sosial dan aktifitas kerelawanan. Memfasilitasi relawan mengenai yang harus dilakukan sebagai relawan, dan kemana ia akan menyalurkan keinginannya untuk menjadi relawan..

Komunikasi publik dengan pembicara Teh Irma Rahmat (@irmarahmat), seorang mantan wartawan yang sekarang mengelola bisnis production house. Menjadi relawan tidak terpungkuri erat sekali hubungannya dengan masyarakat dan publik. Menjalin komunikasi dengan publik adalah hal yang tidak terhindarkan bagi seorang relawan, baik ketika terjun langsung ke ‘penerima manfaat’ (orang yang menerima donasi) maupun dalam kegitaan fundraising. Nah, workshop kemarin mengupas hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjadikan komunikasi publik bagi relawan menjadi efektif. Berikut rangkumannya!

Teh Irma yang sudah sejak lama terjun di dunia social, dengan bahasa yang santai memberikan tips-tips praktis komunikasi publik yang efektif.

Seringkali kita kesulitan dalam menghadapi penerima manfaat yang suka ngeyel. Ada 2 sebab yang menyebabkan penerima manfaat menjadi sangat aktif dan kadang suit dikendalikan, yaitu:

  • Mereka mencari informasi namun tidak berhasil mendapatkannya
  • Mereka tidak mencari informasi dan tidak mendapatkan informasi

Menyediakan informasi yang jelas dan lengkap kepada penerima manfaat merupakan hal yang wajib dilakukan oleh relawan, apabila kesulitan dalam mensosialisasikannya maka kita bisa memanfaatkan relawan lokal ditempat tersebut. Relawan lokal adalah orang-orang yang ikut membantu di suatu tempat dan merupakan penduduk lokal tempat tersebut, dan biasanya penerima manfaat lebih cepat ‘nurut’ dengan relawan lokal.

Secara tak disengaja, terkadang timbul barrier (kesenjangan) antara relawan dan penerima manfaat. Bagaimana carayang nisa dilakukan realwan untuk menghindari terciptanya barrier tersebut?

  • Segera berbaur dengan penerima manfaat
  • Posisikan diri sebagai mereka (penerima manfaat)
  • Jangan sungkan untuk bertanya mengenai kebiasaan di daerah tersebut. Dengan mengikuti kebiasaan di tempat penerima manfaat maka kesenjangan dapat dihindari

Beberapa tips dari beliau yang bisa dipraktekan ketika sedang berbicara di depan umum, misalkan ketika menjadi pembicara/narasumber:

  • Tempatkan seseorang yang membuat kita nyaman sebagai audience kita, dengan begitu akan timbul rasa nyaman juga ketika kita sedang di berbicara di depan umum
  • Kontak mata, membagi perhatian kepada audience, buatlah audience merasa diajak bicara langsung
  • Rasa nervous pasti ada, bahkan Teh Irma pun mengaku meski telah memiliki pengalaman beberapa tahun mengenai publik speaking sampai saat ini pun masih nervous jika melakukan sesuatu hal baru. Namun pointnya adalah ubahlah rasa nervous itu menjadi rasa percaya percaya diri.

Sedikit menyinggung mengenai strategi fundraising, beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kepercayaan donatur dan membuat donatur berkesinambungan mempercayakan donasinya kepada kita:

  • Komunikasi langsung itu penting. Ingat, friendraising is fundraising! Usahakan selalu membangun hubungan baik kepada donatur seperti teman
  • Laporan langsung itu penting
  • Jangan gonta-ganti nomer handphone

Teh Irma yang merupakan dosen Ilmu Komunikasi di UNJ, mengaku mempelajari ilmu komunikasi secara otodidak, sehingga sangat mungkin pula relawan-relawan pun mempelajari komunikasi secara otodidak.

Image

Media social dan show up ke media itu sebenarnya penting bagi komunitas. Kenapa anak –anak banyak yang mencontoh kejelekan? Karena yang kebanyakan diangkat ke media selama inii adalah tontonan yang tidak baik, seperti berita kriminal, dll. Maka sudah saatnya kebaikan-kebaikan yang diberitakan di media, agar anak-anak pun mencontoh kebaikan. Semangat berbagi :))

Oleh: Diaz