Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia (Sajubu), menjadi nama komunitas yang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2010 di Jakarta.

Sehari sebelum genap memasuki tahun ke-6, di tanggal 30 Oktober 2016, Sajubu menggelar acara syukuran yang dihadiri oleh teman-teman beragam komunitas. E-corner Coffee Bogor yang menjadi basecamp Sajubu sejak awal September lalu, sepagi itu dipenuhi oleh tamu-tamu undangan Sajubu.  Kali ini, syukuran Sajubu bertajuk 6et Books, 6et Dreams. Teman-teman yang hadir sudah tersedot perhatiannya sedari penampilan pembuka yang berupa musikalisasi puisi yang berjudul “Kampung Halaman” oleh Kak Faris.

cef1d4a7-0bf2-47f6-888c-e0d236d5c50f

Setelahnya, Kak Yogi selaku MC memberi tempat kepada Mbak Ade Irma yang menjadi narasumber dalam diskusi literasi bertema: “Membaca: Budaya atau Kebutuhan.” Tak banyak paparan yang disampaikan Mbak Ade dalam pembuka diskusi yang dimoderatori oleh Kak Diaz itu. Harapannya memang agar diskusi bisa berlangsung secara silang arah. Maka durasinya lebih dialihkan kepada pertanyaan, sanggahan, bahkan curhatan tentang minat baca dari teman-teman yang hadir. Diskusi pun berlangsung dengan penuh aroma antusiasme. Teman-teman yang hadir memang kebanyakan adalah para pegiat komunitas yang peduli terhadap bidang literasi, seperti Buku Berkaki, Warung Blogger, Goodreads Indonesia, Hibah Buku, Komunitas Beraksi, Tangan Diatas, dan Jenguk, Yuk! Selain itu, Galih dan Ulfa dari Paguyuban Mojang Jajaka kota Bogor.

Mbak Ade Irma di tengah-tengah diskusi menyampaikan juga tipsnya untuk meningkatkan minat baca. Katanya, minat baca harus dimulai dari dukungan keluarga, kemudian mulai membaca dari hal-hal yang disukai, harus terus menumbuhkan rasa ingin tau, dan ikut berkumpul dan berdiskusi  dengan orang-orang yang gemar membaca. Ia juga menyampaikan bahwa menumbuhkan minat baca bukan tugas pemerintah saja, tetapi juga butuh kolaborasi dari multi-elemen. Mas Ingki, dari Harian Kompas, yang juga datang pada acara itu menambahkan bahwa sudah menjadi urgensi para aktivis literasi untuk merevolusi diri lebih in-line ke dalam perubahan zaman.

Bahkan Kak Adi dari komunitas Jenguk, Yuk! sepertinya begitu terbawa dalam arus diskusi hingga spontan membuat puisi dan membacakannya menjelang akhir diskusi. Sebagai penutup Mbak Ade Irma yang merupakan pegiat Aliansi Literasi Surabaya menyampaikan satu pesan, “kita memang harus melakukan pencitraan baik untuk menstimulasi orang-orang berbuat kebaikan juga.”

8d2bbaa2-d820-4fc7-a4ca-31d839d917b2

Usai diskusi literasi, Kak Novita menyampaikan brainstroming tentang dunia pergerakan literasi. Kilas balik Sajubu dari mulai terbentuk di 2010 silam hingga hari ini, sosialiasi sisfosajubu.jejaring.org sampai harapan-harapan ke depan mengenai resonansi yang dapat dilakukan oleh komunitas literasi lainnya bersama Sajubu. Beresonansi, menjadi kata yang dipilih Kak Novita sebagai pengganti istilah “bergerak bersama“.

Sebuah kue kecil dengan lilin berangka 6 yang  tertancap diatasnya pun ditiup sebagai simbolik seremoni syukuran. Setelah sebelumnya, semua yang hadir diminta untuk menyampaikan harapan dan doanya satu persatu secara bergiliran. Harapan-harapan dan doa-doa tentang Sajubu dan minat baca di negeri ini pun melambung tinggi-tinggi menembus langit mendung Bogor. Tetapi siapapun pun yang mendengar doa dan harapan-harapan  itu, rasanya akan berpikir bahwa optimisme dan semangat beresonansi untuk kemajuan literasi tidak akan mendung.

6 tahun berlalu, tapi mimpi kita masih sama. Sebuah buku, untuk sejuta mimpi. Get books, get dreams.

Mari beresonansi!

Penyerahan 1928 Buku dari Komunitas Mobil Honda untuk Kemajuan Minat Baca

Penyerahan 1928 Buku dari Komunitas Mobil Honda untuk Kemajuan Minat Baca

Hari Sabtu lalu, tanggal 29 Oktober, Sajubu menerima donasi buku dari Komunitas Mobil Honda di atas panggung Honda Day 2016. Penyerahan secara simbolik oleh AD. Kurniawan selaku Ketua Umum HBC, dari pihak Sajubu diwakili oleh Kak Novita Anggraini selaku Kordinator Sajubu. Dalam acara yang bertempat di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD Tangerang itu juga dihadiri oleh beberapa relawan Sajubu lainnya, seperti Kak Jeni, Kak Yayan, Kak Tiar, dan Bang Ridho.

14906904_1484178131597474_7632963188138819090_n

Saat penyerahan simbolik itu para kordinator menyematkan doa dan harapannya agar semakin banyak komunitas yang ikut mengembangkan minat baca. Ia juga berpesan kepada Sajubu agar buku-buku donasi yang sejumlah 1928 itu didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. Jumlah 1928 buku sesuai dengan semangat sumpah pemuda yang seperti kita tau diperingati beberapa hari sebelumnya. Buku-buku donasi tersebut merupakan hasil pengumpulan donasi oleh segenap anggota Komunitas Mobil Honda yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di rentang minggu ini, seluruh donasi buku akan dikirimkan ke basecamp Sajubu (E-Corner Coffee, Bogor).

Dalam acara yang dimulai sejak jam 9 pagi Sajubu juga membuka stand untuk mempromosikan kegiatan Sajubu. Di stand itu kami sekaligus menjual berbagai merchandise Sajubu, seperi kaos dan stiker. Keuntungan dari penjualan merchandise tersebut akan digunakan untuk kegiatan operasional Sajubu.

14632866_1484178044930816_4864148016616037661_n

Bagi kami, 1928 buku bukan sekedar nominal jumlah, tetapi beriringan pula dengan jumlah amanah yang diemban, sekaligus harapan-harapan dari bagi anak-anak Indonesia yang kelak akan membaca buku-buku itu.

1928 buku sekaligus harapan untuk kemajuan minat baca.

Terima kasih Komunitas Mobil Honda!

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Membaca, hakikatnya adalah kegiatan yang kompleks. Namun aksesibilitas informasi yang sudah menyunami (lebih dari banjir), justru menghadirkan pengalaman-pengalaman membaca pada taraf yang amat menyedihkan.

Minat baca ibarat kecambah, sarat utama yang berupa hasrat atau dorongan untuk membaca. Satu hirarki diatasnya adalah kebiasaan membaca: kegiatan berulang-ulang untuk mensuksesi minat baca. Sedangkan budaya baca adalah ekskalasi paling ultima. Aksesibilitas bahan bacaan menjadi variabel yang tak bisa dihapus. Tanpa adanya aksesibilitas, maka minat tak akan bertransformasi sebagai kegiataan membaca, apalagi kebiasaan, apalagi budaya baca.

Continue reading