Melanjutkan Pekerjaan dalam Gorong-gorong

Kampanye Sajubu untuk mendukung minat baca anak-anak Indonesia adalah pekerjaan yang lebih banyak dilakukan di dalam gorong-gorong. Kami menggali di dalam gorong-gorong, memastikan bahwa peredaran ‘air’ di bawah jalan raya lancar dan sampai ke tempat yang seharusnya. Air dalam gorong-gorong kami adalah buku-buku titipan donatur. Gorong-gorong yang kami sebut adalah sebentuk mekanisme untuk mendistribusikan buku-buku tersebut ke perpustakaan atau taman baca yang sudah mendaftarkan diri di sisfosajubu.jejaring.org. Lebih sering memang kami bekerja di bawah tanpa ikut riuh terhadap apa yang terjadi di atas jalan raya. Cukuplah orang-orang tau bahwa aliran ‘air’ tetap lancar, mengalir sejauh yang seharusnya. Cukuplah kami melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong. Saya pikir semua organisasi, komunitas, kampanye maupun gerakan memiliki bargaining position masing-masing. Memposisikan diri adalah soal pilihan masing-masing, atau katakanlah sebagai ideologi dan falsasah khas komunitas.  Adalah wajar jika kami memilih bargaining position di dalam gorong-gorong. Selama ini kami bertahan di jalur gorong-gorong yang gelap, sunyi, tenang, dan lebih banyak tidak terlihat.

Terkadang kami memang perlu menghirup udara diatas , keluar dari gorong-gorong dan menampilkan diri sebagai bentuk ketunggalan Sajubu maupun sebagai bentuk sinergitas dengan komunitas lain. Lewat kunjungan-kunjungan perpus atau taman baca yang kami lakukan yang sifatnya non-rutin, misalnya kami membuat acara untuk bermain sambil belajar bersama adik-adik binaan taman baca. Kadang-kadang dalam kunjungan perpus atau taman baca kami melibatkan juga teman-teman dari komunitas lain. Sementara kegiatan seremonial yang diadakan Sajubu adalah syukuran ulang tahun Sajubu yang setiap bulan Oktober. Tak jarang kami menghadiri undangan dari komunitas serumpun ataupun instansi lain terkait misi budaya literasi.

Sajubu memiliki cara yang juga khas. Kami tidak membuka akses baca, dalam hal ini maksudnya Sajubu dengan ketunggalannya tidak pernah bekerja secara khusus untuk membangun perpustakaan atau taman baca baru di suatu daerah. Secara momentum atau sebagai bentuk kerjasama dengan berbagai pihak memang Sajubu pernah terlibat dalam pembangunan rumah baca. Akan tetapi Sajubu bukan sebagai pilar utama, Sajubu adalah penopang. Pembangunan-pembangunan rumah baca merupakan bentuk kerjasama suatu pihak inisiator dengan ‘meminta’ pendampingan Sajubu dalam tata kelola taman baca maupun dalam upaya pengumpulan buku untuk mempersiapkan taman baca.

Seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan ini, kami adalah perpanjangan tangan donatur untuk menyalurkan buku-buku donasi ke perpus atau taman baca yang sudah terdaftar. Secara periodik Sajubu mengirimkan paket-paket buku ke perpus atau taman baca yang memenuhi kualifikasi. Pengurus perpus atau taman baca terlebih dahulu harus mendaftarkan perpus atau taman bacanya ke sisfosajubu.jejaring.org. Semua langkah-langkah pengajuan perpus ada dalam website ini. Tim relawan Sajubu akan menyeleksi perpus atau taman baca mana yang akan menerima paket-paket buku. Tidak ada kualifikasi khusus sebenarnya, asalkan perpus atau taman baca sudah berdiri minimal 1 tahun, data perpus atau taman baca lengkap (termasuk foto yang representatif) dan sudah mengkonfirmasi penerimaan buku sebelumnya lewat sisfosajubu.jejaring.org (jika sudah pernah mendapatkan buku dari Sajubu).Tetapi kebanyakan alasan kami menunda pengiriman buku ke suatu perpus atau taman baca yang meski telah lebih lama terdaftar adalah karena tidak melampirkan foto perpus atau taman baca yang representatif. Maksud dari representatif disini adalah foto tersebut mewakili keadaan buku-buku perpus dan mewakili kegiatan perpus. Mengingat banyaknya perpus atau taman baca yang terdaftar di sisfosajubu.jejaring.org (sampai akhir 2016 lalu ada lebih dari 2000 perpus atau taman baca), memang satu hal yang tidak bisa kami pastikan adalah soal pertanyaan-pertanyaan (baik via FB Sajubu, website, maupun via japri langsung ke relawan Sajubu) dari pengurus perpus terkait “Kapan perpus kami dikirimi buku?” atau “Berapa lama prosesnya sampai perpus kami dikirimi buku?”.

Dan saya kira saya harus membahas soal KKN (Kuliah Kerja Nyata), sejak beberapa tahun terakhir tim relawan Sajubu sering mendapat ajakan kerjasama dari mahasiswa-mahasiswa yang sedang KKN. Kebanyakan daerah mereka ditempatkan belum memiliki perpus atau taman baca, atau, jikapun sudah ada, perpus atau taman baca tsb belum terurus dengan baik. Dalam kasus tersebut kami akan selalu memberikan jawaban yang sama, “Silahkan daftar dulu ke sisfosajubu.jejaring.orgPerpustakaan sudah berdiri minimal 1 tahun.” Mengingat KKN sifatnya juga sementara, agar berkesinambungan pada akhirnya pengurusan perpus atau taman baca sebaiknya tetap dikelola oleh warga lokal.

Sekali lagi, Sajubu akan melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong. Sesekali memang kami perlu menghirup udara di atas jalan raya. Sekuat yang kami mampu, kami menjaga diri untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan di atas panggung yang keropos. Pekerjaan-pekerjaan yang hasilnya bisa saja dipoles agar terlihat megah dan gagah, padahal tidak menunjukkan keadaan sebenarnya karena bukan dibangun diatas pondasi yang kokoh. Jikapun harus membangun jalan layang atau memperbaiki jalan raya, Sajubu pun hanya sebagai salah satu penopang, yang melibatkan banyak pihak selaku pilar lainnya, bukan sebagai ketunggalan Sajubu.

Karena ketunggulan Sajubu adalah pekerjaan periodik di dalam gorong-gorong. Rasanya benar apa yang dipesankan oleh Kak Novita, bahwa, “Sajubu tidak perlu menjadi Titanic, yang besar, tetapi tenggelam di tengah jalan. Sajubu cukup jadi kapal phinisi, yang meski kecil namun mampu bertahan dalam perjalanan panjang.”

Bagi kami, mimpi tentang 1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia adalah mimpi bersama, mimpi milik semua orang. Jadi siapapun yang terlibat dalam aktivitas mendukung minat baca, utamanya dalam hal mengirim buku-buku ke pelosok negeri, adalah bagian yang juga mewujudkan mimpi kami. Semangat kami adalah semangat untuk meresonansi kepedulian terhadap minat baca. Siapapun yang peduli, bisa mewujudkan kepeduliannya itu dalam bentuk apapun, dalam bentuk bargaining position, ideologi, falsafah, atau cara khas apapun. Saya pikir semua cara memiliki kesempatan yang sama besar untuk perbaikan peradaban manusia di Indonesia. Dan beginilah cara kami, tetap melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong.

Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia (Sajubu), menjadi nama komunitas yang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2010 di Jakarta.

Sehari sebelum genap memasuki tahun ke-6, di tanggal 30 Oktober 2016, Sajubu menggelar acara syukuran yang dihadiri oleh teman-teman beragam komunitas. E-corner Coffee Bogor yang menjadi basecamp Sajubu sejak awal September lalu, sepagi itu dipenuhi oleh tamu-tamu undangan Sajubu.  Kali ini, syukuran Sajubu bertajuk 6et Books, 6et Dreams. Teman-teman yang hadir sudah tersedot perhatiannya sedari penampilan pembuka yang berupa musikalisasi puisi yang berjudul “Kampung Halaman” oleh Kak Faris.

cef1d4a7-0bf2-47f6-888c-e0d236d5c50f

Setelahnya, Kak Yogi selaku MC memberi tempat kepada Mbak Ade Irma yang menjadi narasumber dalam diskusi literasi bertema: “Membaca: Budaya atau Kebutuhan.” Tak banyak paparan yang disampaikan Mbak Ade dalam pembuka diskusi yang dimoderatori oleh Kak Diaz itu. Harapannya memang agar diskusi bisa berlangsung secara silang arah. Maka durasinya lebih dialihkan kepada pertanyaan, sanggahan, bahkan curhatan tentang minat baca dari teman-teman yang hadir. Diskusi pun berlangsung dengan penuh aroma antusiasme. Teman-teman yang hadir memang kebanyakan adalah para pegiat komunitas yang peduli terhadap bidang literasi, seperti Buku Berkaki, Warung Blogger, Goodreads Indonesia, Hibah Buku, Komunitas Beraksi, Tangan Diatas, dan Jenguk, Yuk! Selain itu, Galih dan Ulfa dari Paguyuban Mojang Jajaka kota Bogor.

Mbak Ade Irma di tengah-tengah diskusi menyampaikan juga tipsnya untuk meningkatkan minat baca. Katanya, minat baca harus dimulai dari dukungan keluarga, kemudian mulai membaca dari hal-hal yang disukai, harus terus menumbuhkan rasa ingin tau, dan ikut berkumpul dan berdiskusi  dengan orang-orang yang gemar membaca. Ia juga menyampaikan bahwa menumbuhkan minat baca bukan tugas pemerintah saja, tetapi juga butuh kolaborasi dari multi-elemen. Mas Ingki, dari Harian Kompas, yang juga datang pada acara itu menambahkan bahwa sudah menjadi urgensi para aktivis literasi untuk merevolusi diri lebih in-line ke dalam perubahan zaman.

Bahkan Kak Adi dari komunitas Jenguk, Yuk! sepertinya begitu terbawa dalam arus diskusi hingga spontan membuat puisi dan membacakannya menjelang akhir diskusi. Sebagai penutup Mbak Ade Irma yang merupakan pegiat Aliansi Literasi Surabaya menyampaikan satu pesan, “kita memang harus melakukan pencitraan baik untuk menstimulasi orang-orang berbuat kebaikan juga.”

8d2bbaa2-d820-4fc7-a4ca-31d839d917b2

Usai diskusi literasi, Kak Novita menyampaikan brainstroming tentang dunia pergerakan literasi. Kilas balik Sajubu dari mulai terbentuk di 2010 silam hingga hari ini, sosialiasi sisfosajubu.jejaring.org sampai harapan-harapan ke depan mengenai resonansi yang dapat dilakukan oleh komunitas literasi lainnya bersama Sajubu. Beresonansi, menjadi kata yang dipilih Kak Novita sebagai pengganti istilah “bergerak bersama“.

Sebuah kue kecil dengan lilin berangka 6 yang  tertancap diatasnya pun ditiup sebagai simbolik seremoni syukuran. Setelah sebelumnya, semua yang hadir diminta untuk menyampaikan harapan dan doanya satu persatu secara bergiliran. Harapan-harapan dan doa-doa tentang Sajubu dan minat baca di negeri ini pun melambung tinggi-tinggi menembus langit mendung Bogor. Tetapi siapapun pun yang mendengar doa dan harapan-harapan  itu, rasanya akan berpikir bahwa optimisme dan semangat beresonansi untuk kemajuan literasi tidak akan mendung.

6 tahun berlalu, tapi mimpi kita masih sama. Sebuah buku, untuk sejuta mimpi. Get books, get dreams.

Mari beresonansi!

Penyerahan 1928 Buku dari Komunitas Mobil Honda untuk Kemajuan Minat Baca

Penyerahan 1928 Buku dari Komunitas Mobil Honda untuk Kemajuan Minat Baca

Hari Sabtu lalu, tanggal 29 Oktober, Sajubu menerima donasi buku dari Komunitas Mobil Honda di atas panggung Honda Day 2016. Penyerahan secara simbolik oleh AD. Kurniawan selaku Ketua Umum HBC, dari pihak Sajubu diwakili oleh Kak Novita Anggraini selaku Kordinator Sajubu. Dalam acara yang bertempat di ICE (Indonesia Convention Exhibition) BSD Tangerang itu juga dihadiri oleh beberapa relawan Sajubu lainnya, seperti Kak Jeni, Kak Yayan, Kak Tiar, dan Bang Ridho.

14906904_1484178131597474_7632963188138819090_n

Saat penyerahan simbolik itu para kordinator menyematkan doa dan harapannya agar semakin banyak komunitas yang ikut mengembangkan minat baca. Ia juga berpesan kepada Sajubu agar buku-buku donasi yang sejumlah 1928 itu didistribusikan secara merata ke seluruh wilayah Indonesia. Jumlah 1928 buku sesuai dengan semangat sumpah pemuda yang seperti kita tau diperingati beberapa hari sebelumnya. Buku-buku donasi tersebut merupakan hasil pengumpulan donasi oleh segenap anggota Komunitas Mobil Honda yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di rentang minggu ini, seluruh donasi buku akan dikirimkan ke basecamp Sajubu (E-Corner Coffee, Bogor).

Dalam acara yang dimulai sejak jam 9 pagi Sajubu juga membuka stand untuk mempromosikan kegiatan Sajubu. Di stand itu kami sekaligus menjual berbagai merchandise Sajubu, seperi kaos dan stiker. Keuntungan dari penjualan merchandise tersebut akan digunakan untuk kegiatan operasional Sajubu.

14632866_1484178044930816_4864148016616037661_n

Bagi kami, 1928 buku bukan sekedar nominal jumlah, tetapi beriringan pula dengan jumlah amanah yang diemban, sekaligus harapan-harapan dari bagi anak-anak Indonesia yang kelak akan membaca buku-buku itu.

1928 buku sekaligus harapan untuk kemajuan minat baca.

Terima kasih Komunitas Mobil Honda!

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Membaca, hakikatnya adalah kegiatan yang kompleks. Namun aksesibilitas informasi yang sudah menyunami (lebih dari banjir), justru menghadirkan pengalaman-pengalaman membaca pada taraf yang amat menyedihkan.

Minat baca ibarat kecambah, sarat utama yang berupa hasrat atau dorongan untuk membaca. Satu hirarki diatasnya adalah kebiasaan membaca: kegiatan berulang-ulang untuk mensuksesi minat baca. Sedangkan budaya baca adalah ekskalasi paling ultima. Aksesibilitas bahan bacaan menjadi variabel yang tak bisa dihapus. Tanpa adanya aksesibilitas, maka minat tak akan bertransformasi sebagai kegiataan membaca, apalagi kebiasaan, apalagi budaya baca.

Continue reading