Pentingnya Buku dan Minat Baca dalam Menunjang Pendidikan

(Artikel ini merupakan tulisan Bu Yani, Kepala Sekolah SMPN 9 Cibinong Kab. Cianjur. Bu Yani membagi pandangannya tentang minat baca dan kisah tentang kondisi tempat ia mengabdi.)

Bagi sebagian masyarakat, buku belum menjadi kebutuhan pokok. Kebanyakan orang lebih senang menghabiskan waktu senggang dan uangnya untuk berjalan jalan ke mall dibandingkan ke perpustakaan atau toko buku. padahal banyak sekali manfaat yang di dapat dengan kita membaca buku.
Dengan memperkenalkan buku pada anak sejak kecil maka itu bisa menjadi alasan untuk membentuk mereka menjadi manusia yang berpendidikan, berwatak ,berwawasan dan berintelegensi tinggi di kemudian hari.
Buku akan menjadi sumber informasi utama dan bisa menjadi guru yang dapat hadir kapan saja di perlukan. Minat membaca merupakan persyaratan seseorang untuk selalu membiasakan diri membaca sebagai salah satu kebutuhan hidupnya. Semakin tinggi minat baca seseorang maka akan semakin cerdas orang tersebut.


Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan kegemaran membaca di lembaga sekolah, yaitu sekolah harus mampu memfasilitasi minat baca murid dengan melengkapi perpustakaan sekolah dengan berbagai jenis dan ragam buku. Sedangkan lingkungan keluarga juga mempunyai peranan cukup besar untuk menumbuhkan minat baca seseorang. Upaya yang dapat diterapkan di lingkup keluarga untuk pembiasaan membaca anak, diantaranya; anak dikenalkan dengan buku sedini mungkin; ajak anak ke toko buku; ajari anak untuk menyisihkan uang jajannya untuk membeli buku; ciptakan perpustakaan sendiri di rumah. Karena minat baca merupakan persyaratan dan sekaligus ciri kemajuan pendidikan suatu bangsa.


SMPN 9 Cibinong Cianjur berjarak kurang lebih 100 km dari pusat kota kabupaten Cianjur, merupakan sekolah yang baru didirikan pada tahun 2015. Sekolah kami masih memerlukan banyak sekali pembangunan di sana sini untuk kemajuan peserta didiknya, terutama dalam pengadaan buku buku referensi yang belum sama sekali dimiliki oleh sekolah kami. Keadaan ekonomi peserta didik pada umumnya berasal dari keluarga menengah ke bawah yang tidak memiliki kemampuan untuk membeli buku, apalagi buku buku referensi. Padahal minat para peserta didik sangat tinggi sekali terhadap bacaan bacaan yang mendidik.


Berbagai upaya telah kami lakukan untuk memfasilitasi peserta didik dalam pemenuhan minat bacanya, tetapi dengan keterbatasan membuat kami sedikit kesulitan untuk mendapatkan buku buku referensi. Semua guru pengajar di SMPN 9 Cibinong yang merupakan tenaga honorer sangat tidak mungkin untuk membantu menyediakan buku buku referensi bagi peserta didik. Penulis, selaku Kepala Sekolah menjadi satu-satunya tenaga yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang kebetulan tinggal di Kota Kabupaten Cianjur. Setiap berangkat ke SMPN 9 Cibinong berusaha untuk membawa buku buku referensi yang diperlukan untuk peserta didik walau dalam jumlah yang sedikit sekali.
Sampai pada suatu saat kami mendengar adanya himpunan anak anak muda yang begitu peduli terhadap pendidikan, terutama bagi daerah yang terisolir dari pusat kota seperti sekolah kami. Alhamdulillah kami bisa berkomunikasi dengan salah satu relawan gerakan “1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia” (SAJUBU) yang memberikan bantuan buku-buku referensi yang sangat diperlukan oleh sekolah kami. Anak-anak lebih semangat ke sekolah karena termotivasi dengan banyaknya buku referensi yang dapat mereka baca di sekolah.
Terimakasih kepada SAJUBU yang telah begitu peduli terhadap kemajuan peserta didik kami dengan bantuan buku-bukunya, mudah mudahan semua kegiatan ini mendapatkan ridho dan pahala dari Allah SWT. Aamiin.

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Membaca, hakikatnya adalah kegiatan yang kompleks. Namun aksesibilitas informasi yang sudah menyunami (lebih dari banjir), justru menghadirkan pengalaman-pengalaman membaca pada taraf yang amat menyedihkan.

Minat baca ibarat kecambah, sarat utama yang berupa hasrat atau dorongan untuk membaca. Satu hirarki diatasnya adalah kebiasaan membaca: kegiatan berulang-ulang untuk mensuksesi minat baca. Sedangkan budaya baca adalah ekskalasi paling ultima. Aksesibilitas bahan bacaan menjadi variabel yang tak bisa dihapus. Tanpa adanya aksesibilitas, maka minat tak akan bertransformasi sebagai kegiataan membaca, apalagi kebiasaan, apalagi budaya baca.

Continue reading

Merekam Tawa dalam Kolaboraksi di Permata Insani

Merekam Tawa dalam Kolaboraksi di Permata Insani

 

Panti Asuhan Yayasan Permata Insani yang letaknya tak jauh dari pintu keluar tol Cijago Depok, menjadi tempat ‘Tebar Buka’ ketujuh selama rangkaian acara SERABI (Semangat Ramadhan Berbagi dan Peduli). SERABI digagas oleh DKM Masjid Yusuf BDI PT Medco Energi dan berkolaborasi dengan Sajubu dan @thestreetstore. Selama Ramadhan ini, Open Drop Box di Mesjid Yusuf Energi Building menampung donasi untuk makanan berbuka, paket sembako, buku-buku dan sandang layak pakai. Makanan berbuka dan paket sembako akan disalurkan ke 19 panti asuhan di Jabodetabek dalam subacara yang disebut Tebar Buka. Sedangkan buku-buku donasi yang terkumpul akan diamanahkan kepada SAJUBU untuk disalurkan kepada perpustakaan-perpustakaan yang terdaftar di sisfosajubu. Sandang layak pakai pun akan di estafet ke thestreetstore untuk disalurkan kembali kepada yang membutuhkan.

Mas Sigit, penanggung jawab dari DKM Mesjid Yusuf BDI memang secara khusus meminta Sajubu untuk dapat hadir dan menghibur adik-adik di beberapa panti asuhan yang sudah dijadwalkan. Sajubu yang memang tergabung dalam naungan Komunitas Beraksi, mengajak beberapa komunitas literasi lainnya untuk #kolaboraksi dalam mengisi acara.

Rabu lalu tanggal 15 Juni lalu, kami sedikit berbelok dari arah pulang biasanya, menuju Panti Asuhan Yayasan Permata Insani. Kak Fadila dari Ayo Dongeng Indonesia, misalnya, yang jauh-jauh berangkat dari domisilinya di Pasar Minggu, demi mendongeng. Tak sia-sia, perempuan ceria dengan suara lantang itu pun mampu menyedot perhatian sekitar 70an adik-adik binaan panti. Mereka larut dalam cerita yang dibawakan Kak Fadila. Padahal acara Tebar Buka tersebut dimulai di sore hari, saat sisa energi mereka kian tipis.

Pun dengan Kak Willy, founder komunitas BukuBagiNTT, yang datang dari bilangan Kuningan untuk memandu games dan ice breaking. Dengan bantuan kakak-kakaknya lainnya, seperti Kak Anaz, Kak Nopi, dan Kak Like membuat adik-adik binaan panti bertambah antusias dan semangat mengikuti games. Seolah membuat mereka lupa dengan penantian terhadap adzan magrib sedari siang. Kami merekam tawa, canda, dan keceriaan kental kentara di acara yang hanya berlangsung satu setengah jam tersebut.

Setelah pembagian hadiah games berupa buku, adik-adik pun duduk rapih kembali untuk persiapan berbuka. Usai menikmati makanan pembuka, dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah. Setelah itu, masing-masing adik diberikan nasi box. Tidak semua adik-adik binaan tinggal di asrama, kebanyakan mereka pulang ke rumah yang letaknya pun tak terlalu jauh dari panti. Adik-adik binaan terdiri dari berbagai kelompok usia, dari usia pra sekolah sampai SMP. Beberapa memang masih sangat kecil, bahkan terlihat sampai kewalahan saat membawa nasi box.

Selain Mas Sigit, Pak Dani sebagai perwakilan DKM Mesjid BDI pun hadir dalam Tebar Buka tersebut. Doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan pengurus panti menjadi tanda harus berakhirnya kebersamaan di petang kemarin.

“Kakak.. kakak.. nanti kesini lagi, ya!” pesan seorang adik, seperti tidak rela atas kepulangan kami.

Dan inilah yang menjadi hutang kami selanjutnya. Semoga ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke bangunan yang baru ditempati sejak Maret 2016 lalu. Sebelumnya, lokasi panti memang sempat berpindah-pindah karena pengelola panti masih mengontrak rumah. Siapa menyangka, bangunan dua lantai yang cukup besar dengan tembok bercat putih tersebut adalah hasil tabungan dari donasi yang masuk ke yayasan selama empat tahun.

Tebar Buka selanjutnya yang kembali diisi oleh teman-teman Komunitas Beraksi akan berlangsung pada Senin, 27 Juni nanti di Panti Asuhan Keluarga Aisyiyah, Cikini.

Yuk, berbagi!

oleh : Diaz Setia

Eksplorasi Balai Kirti

Eksplorasi Balai Kirti

Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang salah satunya ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. 108 tahun sudah berlalu, semoga semangat kebangkitan ini masih terpatri di hati pemuda-pemudi Indonesia.

Sebagai salah satu cara memperingati Hari Kebangkitan Nasional di tahun 2016 ini, Sajubu berkolaborasi bersama Terminal Hujan dan Beasiswa Alumni SMAKBo mengadakan event mengunjungi Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yang berlokasi di kawasan Istana Kepresidenan Bogor. Untuk sedikit informasi, nama Kirti ini diambil dari Bahasa Sanskerta yang berarti kemasyhuran. Balai Kirti diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2014 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Museum ini didirikan di tanah seluas kurang lebih 3211,6 meter persegi, sebagai penghargaan atas karya dan prestasi dari presiden pertama sampai dengan keenam dalam membangun Indonesia. Dengan desain sedemikian rupa, semangat para presiden yang telah membangun dan berjasa bagi Indonesia dapat diresapi kehadirannya.

Ketika memasuki Balai Kirti di lantai pertama, pengunjung disambut oleh lambang negara Indonesia. Burung Garuda dengan gagahnya bertengger di pintu masuk, diapit oleh teks Proklamasi di sebelah kiri dan teks Pancasila di sebelah kanan. Ke arah kanan dari pintu masuk terpampang jelas teks pembukaan Undang Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia. Agak ke dalam, patung 6 presiden Republik Indonesia berdiri dengan gaya khasnya masing-masing. Ukuran patung ini sebesar 1,5 kali ukuran asli para presiden. Ruang museum lantai dua memamerkan barang-barang memorabilia pribadi milik para presiden terdahulu. Setiap presiden, masing-masing memiliki satu ruangan. Mulai dari pakaian lengkap dengan atributnya, yang biasa digunakan para presiden dalam menerima tamu kenegaraan, jam tangan kesayangan, kacamata yang digunakan, sampai foto-foto bersejarah dapat dilihat di lantai dua ini.

Setiap ruangan dilengkapi foto dan quotes dari masing-masing presiden.

Soekarno : “Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”

Soeharto : “Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik proklamasi”

B.J. Habibie : “Indonesia harus mengandalkan pada sumberdaya manusia yang berbudaya, merdeka, bebas, produktif dan berdayasaing tinggi”

K.H. Abdurrahman Wahid : “Tidak ada kekuasaan yan layak dipertahankan dengan pertumpahan darah”

Megawati Soekarnoputri : “Bendera telah aku kibarkan, pantang surut langkahku walau tinggal sendirian”

Susilo Bambang Yudhoyono : “Kekuasaan itu menggoda, gunakan dengan penuh amanah untuk kepentingan bangsa”

Di lantai dua juga terdapat ruang perpustakaan, surganya para pembaca buku. Buku-buku di ruang ini adalah buku koleksi pribadi para presiden. Pada kesempatan kali ini, rombongan Kami mendapatkan kesempatan emas untuk memasuki ruang perpustakaan dan berlama-lama menelisik koleksi buku apa saja yang ada di sana. Ruang perpustakaan saya nobatkan sebagai ruangan terfavorit se-Balai Kirti. Hehehe

Oleh : Jeni Fajarnisfi 

Catatan Merah Pendidikan Indramayu – Bagian I

Catatan Merah Pendidikan Indramayu – Bagian I

 

Gambar di atas merupakan sebagian potret kondisi salah satu sekolah afiliasi (Cagak Kroya) yang ada di kawasan Cikawung, Terisi, Indramayu. Kondisi yang sangat memprihatinkan, padahal sekolah ini ada di kawasan hutan kayu putih yang notabene merupakan daerah cakupan Perhutani.

Saat tim relawan Sajubu, Kaki Jabar, dan Pancadarma Indramayu berkunjung, semua siswa-siswi sekolah tersebut sedang difokuskan ke sekolah induk yakni SDN Cikawung 4 yang berjarak cukup jauh, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di sana tim yang tergabung dalam #KolaborAKSI #KakiJa8ar melakukan kegiatan bersama siswa-siswi untuk memompa semangat mereka agar tak merasa kecil hati karena bersekolah di pelosok desa. Teman-teman relawan juga membagikan buku, kaos kaki dan alat-alat olahraga untuk kebutuhan di sekolah. Setelah kegiatan ini, diharapkan komunitas lokal mulai peduli dengan kondisi pendidikan di kawasan sendiri tanpa harus terus menerus mengharapkan gerakan pemerintah yang terkesan lamban menangani cepatnya perubahan demi perubahan yang ada.

bersambung…

Gaung Senyap Hari Buku Sedunia

Gaung Senyap Hari Buku Sedunia

Di Indonesia, gaung perayaan Hari Buku Sedunia seolah terdengar senyap. Kita seolah luput dari perayaan tersebut, jika pun ada hanya perayaan-perayaan komunal yang digagas komunitas baca atau organisasi nirlaba lainnya, bukan perayaan nasional. Telinga kita lebih populer dengan peringatan hari buku lokal, yaitu Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang jatuh setiap 17 Mei, bertepatan dengan momentum peresmian perpustakaan nasional.

Dalam kesenyapan kita, beberapa bagian dunia ramai menggaungkan Hari Buku Sedunia. Misalnya, Swedia merayakan Hari Buku Sedunia dengan menyelenggarakan kontes buku terbaik yang dipilih, baik oleh anak-anak maupun dewasa. Irlandia menyelenggarakan festival buku sebulan penuh di ibukota negara, Dublin. Di Brazil berbagai toko buku menyampaikan kampanye mengenai kesusasteraan untuk anak-anak. Sejak tahun 2008, Mexico mengadakan pembacaan buku di depan publik selama 12 jam berturut-turut.

Sejak tahun 1995 UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai “World Day Book” atau Hari Buku Sedunia. Tanggal tersebut bertepatan dengan kematian beberapa penulis kenamaan dunia yang berpegaruh pada jamannya, sebut saja seperti  Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, serta Joseph Pla dan beberapa penulis juga lahir Vladimir Nabokov, Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Haldór Laxness. World Book Capital City 2016 jatuh kepada Wroclaw (Polandia).  Dan Conakry (Republik Guinea) menjadi kandidat yang dipertahankan sebagai World Book Capital City 2017. World Book Capital City adalah pengakuan eksklusif simbolis dari UNESCO atas program terbaik yang didedikasikan untuk buku dan membaca.

Sebelum jauh-jauh berambisi tentang  World Book Capital City  di Indonesia, kita masih berkutik pada pembudayaan membaca di lini pendidikan dasar. Sudah bukan menjadi rahasia mengenai riset minat baca di Indonesia, Berdasarkan data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Di negara maju setiap penduduknya membaca 20 hingga 30 judul buku setiap tahun. Sebaliknya di Indonesia, penduduk hanya membaca paling banyak tiga judul buku dan itu pun masyarakat usia 0-10 tahun.

Menilik fakta-fakta tersebut, per tahun 2015 silam kewajiban membaca sudah masuk ke ranah konstitusional, lewat Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Permendikbud) No. 21/2015 tentang kewajiban membaca selama 15 menit. Dan di tahun 2016 ini adalah tahun sosialisasi regulasi tersebut. Sebanyak 514 sekolah unggulan dipilih Kemendikbud sebagai mitra, yang nantinya masing-masing sekolah-sekolah tersebut perlu melanjutkan estafet binaan ke 5 sekolah lainnya. Langkah tersebut adalah angin segar yang memicu optimisme terhadap budaya membaca. Seperti efek domino, peraturan pemerintah pusat itu pun mengimbas pada program-program pemda dan sekolah-sekolah. Penumbuhan minat baca pun menjadi konsen beberapa pemerintah daerah, misalnya Yogyakarta yang disinyalir sebagai kota dengan minat baca tertinggi se-Indonesia. Pemerintah kota Surabaya, DKI Jakarta, Bandung, Jayapura, Depok, Sidoarjo, Kediri dan beberapa kota lainnya mulai menggulirkan program-program yang pro terhadap pembudayaan membaca.

Namun pemerintah pusat dan pemerintah daerah bukanlah dwi-tunggal yang menjadi aktor utama dalam misi tersebut. Bersyukurnya, hari ini kita melihat ada ribuan komunitas baca atau organisasi nirlaba dengan caranya masing-masing juga fokus berjibaku terhadap pembudayaan minat baca. Bersyukurnya, Indonesia masih memiliki ribuan orang tanpa kepentingan yang menuangkan kegelisahan mereka terhadap minat baca dalam bentuk aksi nyata. Perusahaan-perusahaan multinasional pun mulai melirik persoalan minat baca sebagai ladang emas garapan program CSR-nya (Corporate Social Responsibilty). Komunitas-komunitas, organisasi-organisasi nirlaba, serta program CSR perusahaan adalah stakeholder pemerintah dan sekolah-sekolah dalam misi pembudayaan minat baca.

Jika kembali kepada esensi dari perayaan Hari Buku Dunia, yaitu sebagai bentuk penghargaan antara penulis, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas dan masyarakat umum. Semuanya bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi, serta meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan. Maka hari ini, yang belum kita lihat adalah sinergitas antara pemerintah, industri penerbitan buku, dan distributor-distributor buku yang dapat menggemakan minat baca. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tersebut masih mengeluhkan soal harga-harga buku yang kian mencekik intelektual mereka. Kita masih ketinggalan dengan India dan beberapa negara lain yang sudah menerapkan program buku murah atau yang biasa disebut dengan low-price edition book.

Pemerintah sebagai garda depan misi pembudayaan minat baca, didukung oleh sekolah-sekolah, pendidik, komunitas, organisasi, dan program-program CSR perusahaan. Sementara regulasi pemerintah pun sudah semestinya menggandeng industri penerbitan buku, dan distributor sebagai sayap samping yang ikut melahirkan sebuah negara yang ramah buku. Ada satu hal yang kita tidak boleh luput, yaitu pembudayaan minat baca di skala keluarga atau basis rumahan. Di luar sosialisasi dan induksi-induksi tentang minat baca di lingkungan sekolah, kita tidak boleh lupa bahwa waktu terbanyak anak-anak adalah di rumah. Kita akan digandrungi oleh sebuah pertanyaan besar: seberapa banyak keluarga yang menerapkan ‘rumah ramah buku’? Sebaik-baiknya nasihat adalah mencontohkan. Percontohan dari lingkungan keluarga adalah bagian yang tak bisa dihapus dalam sebuah misi revolusi budaya.

Jika hari kemarin, yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, negara kita masih senyap, kelak, dengan sinergitas, optimisme, dan konsistensi  semua komponen, tak mustahil kita pun bisa ikut riuh dalam perayaan tersebut. Jadi, daripada sinis dengan fakta-fakta lesunya minat baca, lebih baik mulai ambil bagian dalam revolusi budaya baca.

Sumber ilustrasi: y72015.kehsblogs.net

Deru Pesawat Terbang

Deru Pesawat Terbang

Pernahkah kalian naik angkot, lantas tiba-tiba dengan senang hati si sopir angkot bilang, “nggak usah bayar, Dik. Gratis hari ini”.

Pernahkah kalian pergi ke Kantor Kepala Desa, ke Kelurahan mengurus KTP, lantas petugasnya sambil tersenyum bilang, “tunggu sebentar ya, satu jam lagi KTP-nya pasti jadi”. Kemudian petugas mengurus dengan bersemangat, kesana-kemari, langsung jadi. Saat KTP ingin diambil, ingin memberi uang lebih karena ihklas, si petugas sambil nyengir bilang, “maaf tidak usah Mbak, sudah kewajiban kami kok”

Pernahkah kalian ditilang Polisi, lantas Pak Polisi hanya menepuk bahu, tersenyum seraya mengatakan, “besok jangan lupa helm-nya ya Mas, ayo silahkan jalan lagi”.

Pernahkah kalian bertemu dokter, berobat, diterima dengan senyum, dijelaskan dengan rinci, bahkan dia pandai sekali memberi tips agar sakit tak terulang, saat hendak membayar, “ini no hp saya ya, besok lusa kalau ada keluhan nggak usah datang, sms atau telepon saja, kan repot jauh datang”.

Pernahkah kalian punya teman yang mau berbagi apa saja, punya tetangga yang baik dan suka mengirim makanan? Pernahkah…

Kemanakah pendidikan akhlak itu, yang tersisa hari ini adalah : sopir angkot galak mengejar setoran, petugas yang jangankan berpikir mengabdi, dokter dengan kepedulian terbatas, polisi yang lebih sering menyusahkan dibandingkan mengayomi, kawan yang sering mengajak kesia-siaan, tetangga yang kotor dan dengki hatinya.

Kemanakah akhlak mulia itu. Maka jangan tanya pemimpin-pemimpin kita, jangan tanya orang-orang yang memiliki kekuasaan, acara-acara di televisi sudah penuh dengan kehidupan glamour orang menengah ke atas.

Mulai hari ini, mari kita meneguhkan hati, merapatkan barisan, kesempatan itu tetap ada, ketika generasi baru terlahirkan dengan akhlak cemerlang bagai mutiara. Mari kita serbu rumah-rumah mereka, kamar-kamar mereka, ruang makan, ruang tamu dengan buku-buku. Buku-buku yang dibaca oleh anak-anak mereka, maka ketika keadaan sekitar begitu rusaknya memberi teladan, semoga dengan buku-buku yang baik mereka akan terinspirasi sebuah kebaikan juga. Sesuatu yang disebut akhlak mulia.

Seperti deru pesawat terbang, membuat bergetar kolam tenang 30.000 kaki di bawahnya, membuat bergetar jendela-jendela rumah.

Begitulah kebaikan yang akan membuat bergetar hati kita.

* * *

Oleh : Novita Anggraini

Buku Untuk Lahat

Buku Untuk Lahat

Jumlah buku yang dimilikinya tidak begitu banyak. Tak lebih dari 50 buku. Namun, bagi dua remaja ini tak menjadi alasan untuk tidak berbagi bahan bacaan. Diberinya label pada setiap buku, kemudian dibuatlah catatan tentang peminjaman buku. Maka, jadilah dua bersaudara ini mengelola perpustakaan pribadinya untuk berbagi bahan bacaan dengan teman-teman di kampungnya. Mereka adalah Delia dan Yosi, dua saudara sepupu siswa kelas XII SMAN 1 Merapi Barat.

Dela dan Yosi yang sudah mengelola perpustakaan pribadi

Adalah Desa Merapi, Kecamatan Merapi barat yang terletak di Jl. Lintas Sumatera KM. 20 Merapi. Pada 7 Februari 2016 lalu, teman-teman dari Satu Juta Buku Untuk Indonesia (Sajubu) melakukan kunjungan ke Desa tersebut. Kunjungan teman-teman dari Sajubu bertujuan untuk survey mengenai pengadaan Rumah Baca di Lahat. Tentunya, kedatangan mereka tidak sendiri, ditemani oleh teman-teman dari Sekolah Raya mereka mengenalkan tentang konsep rumah baca dan juga kenapa meski ada rumah baca. Kedatangan mereka, tentunya tak muluk-muluk ingin mengubah banyak hal di desa Merapi dengan cara mendirikan rumah baca. Tapi lebih kepada menemukan dan solidaritas dari antar komunitas yang ada di Desa Merapi dan sekitarnya.

“Salah satu bentuk mewujudkan impian anak-anak di Lahat adalah melalui rumah baca, ini untuk mengawali sebuah proses mencipta melalui tahapan membangun visi melalui sebuah mimpi melahirkan generasi cerdas anak-anak di Desa Merapi dan sekitarnya di tahun 2036, yaitu memulainya melalui gerakan rumah baca di tahun 2016,” Ini dikatakan oleh Pak Agustian dari Sekolah Raya. Harapan sederhana dari Pak Agus adanya rumah baca sebagai penyambung mimpi anak-anak di Desa Merapi. “Ruang kegairahan penyampaian pengetahuan berbentuk rumah baca menjadi modal utama dalam membangun desa.” Ujarnya lagi menegaskan tentang visi pembuatan rumah baca di hadapan teman-teman warga Desa Merapi yang siap sedia menjadi tonggak pemegang amanah rumah baca nantinya.

Komputer yang tak pernah dioperasikan selama 4 tahun sejak pengadaan. Mulai digunakan belum lama ketika ada guru honorer di SMPN 1 Merapi Barat. Adik-adik ini sedang belajar mengoperasikannya.

“Di sana, ada lab komputer yang tak jauh dari balai desa. Sayangnya, jarang dipakai karena anak-anak tak pandai mengoperasikannya.” Ujar Novi salah satu relawan Sajubu.

Kunjungan teman-teman dari Sajubu awal bulan lalu, melahirkan sebuah kesepakatan dari warga sekitar, bahwa akan didirikan rumah baca yang didukung oleh salah satu CSR perusahaan yang berada di dekat Desa Merapi. Diberi nama Humah Mbace Ayek Lematang, rumah baca ini diambil dari filosofi keberadaan sungai Lematang yang melintas di dua kota dan kabupaten yaitu Pagaralam, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim dan kota Prabumulih. Memiliki hulu di kaki Gunung Dempo dan berhilirkan Sungai Musi, tak pernah surut airnya bahkan di musim kemarau panjang. Diharapkan rumah baca ini akan terus mengalirkan kebaikan bagi setiap insan yang menyinggahinya.

Belajar dari kepedulian Delia dan Yosi, tentunya kami berharap bahwa Humah Mbace Ayek Lematang akan semakin memperluas jaringan buku bacaan bagi adik-adik di Desa Merapi untuk membaca buku. Pelaksanaan nantinya, Sajubu tentunya tidak sendirian. Tapi akan bekerja sama dengan teman-teman dari Buku Berkaki juga Blogger Hibah Buku untuk sama-sama mencari donasi buku dan nantinya akan melakukan label buku, menyampul buku, input data serta packing buku yang akan dilaksanakan pada tanggal, 6,9,12 Maret dan packing akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2016. Donasi buku dibuka dari 18 Februari-18 Maret 2016.

Untuk donasi buku, bisa dikirim ke alamat:
Perpustakaan Buku Berkaki (UP. Belantara Budaya Indonesia) 
Museum Kebangkitan Nasional.

Jl. Abdul Rachman Saleh no. 26
Senen-Jakarta Pusat 10410
Narahubung, Icha; 08113227777 (donasi buku)
Narahubung, Anazkia; 085945447914 ( input data, penyampulan, pelabelan dan packing)

Catatan Kecil Kampung Dwimulyo

Kunjungan semester tim Sajubu di akhir 2015 pun akhirnya harus berlabuh di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, tepatnya di Perpustakaan Anugrah yang terletak di Kampung Dwimulyo, Kecamatan Penawartama sekitar 120 km dari Ibukota Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung.

Mengapa Perpustakaan Anugrah?

Berawal dari kegagalan kordinasi dengan salah satu taman baca yang tak jauh posisinya dari Taman Nasional Way Kambas, kami anggap pihak penanggung jawab belum konsen untuk melakukan pengelolaan taman baca. Sedangkan buku-buku donasi sudah disiapkan baik dari Sajubu sendiri maupun pihak komunitas donatur buku lain seperti Buku Berkaki juga donasi perorangan. Merasa sayang dengan buku yang telah terkumpul, maka saya mewakili tim langsung membuka sistem aplikasi berbasis web milik Sajubu, sisfosajubu.jejaring.org. Mengetik keyword ‘lampung’ pada list perpustakaan dan akhirnya mendapati Perpustakaan Anugrah pada sisfosajubu sebagai salah satu pengaju berstatus non-aktif yang artinya perpustakaan ini belum merima kiriman buku dari Sajubu. Salah satu alasan kuat yang membuat saya harus menghubungi pihak penanggung jawab adalah Perpustakaan Anugrah mencantumkan link video YouTube kegiatan Kemah Perpustakaan yang terlihat menarik juga penghargaan yang diterima sebagai Tak kurang dua minggu dari jadwal keberangkatan saya baru menghubungi Pak Sutrisno, yang nomornya dijadikan narahubung Perpustakaan Anugrah pada sistem basis data informasi kami. Nasib baik bagi buku-buku yang telah disiapkan, mereka mendapatkan tempat baru di Lampung, Pak Sutrisno menyambut baik niat kedatangan tim Sajubu dan telah mengumumkan antusiasme teman-teman Desa Dwimulyo pada akun facebook di kali pertama kami mengubunginya.

Dari Jakarta ke Tulang Bawang

24 Desember 2015, jam 08.00 pagi para kuli kardus baru lengkap berkumpul di Terminal Kampung Rambutan. Dua tas besar berisi buku-buku yang dibawa oleh kuli kardus Sajubu (Saya, Kak Jeni, Kak Ije, Kak Hilda, Henita) beserta Ibu pun tersimpan rapi di bagasi bis Primajasa Kp.Rambutan – Merak, dilanjutkan dengan Kapal Ferry penyebrangan Selat Sunda, Merak – Bakaheuni. Tiba di Lampung pukul 16.00 WIB dan perjalanan menuju Perpustakaan Anugrah harus dilanjutkan lagi dengan travel sewaan rekomendasi Pak Sutrisno yang katanya sudah fasih daerah tujuan kami. Kurang lebih 250 km jarak tempuh dari Merak menuju Tulang Bawang, dan benar saja saran Pak Sutrisno agar kami memilih travel yang sudah disediakan saja karena sang pengemudi yang belakangan akrab kami sapa Pak Ardi berdomisili Mesuji telah kenal baik dengan tempat yang akan kami kunjungi, karena sebelumnya memang ada pertimbangan untuk menggunakan transportasi umum menuju Tulang Bawang dari Pelabuhan Merak.

Setelah beberapa kali berhenti, menaksir-naksir jalan dan rumah yang semakin masuk ke dalam perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta, akhirnya kami berhasil menemukan Rumah Pak Sutrisno yang sekaligus menjadi keberadaan Perpustakaan Anugrah tepat di pukul 12.00 malam. Terlihat wajah lega dari Pak Sutrisno beserta sekeluarga ketika menyambut kedatangan kami, mungkin beliau cemas tamu jauhnya tak kunjung sampai sedari sore. Bukannya langsung istirahat kami justru mengobrol banyak tentang kegiatan perpustakaan dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Penawartama, juga hal paling mendasar yang membuat saya penasaran sejak menemukan Perpustakaan Anugrah pada sistem informasi 1 Juta Buku yaitu tautan video Jambore Perpustakaan yang diikuti oleh ratusan siswa-siswi sekolah juga masyarakat sekitar. Mengapa mereka sangat bekerja keras untuk memprakarsai keberadaan perpustakaan ini?

Adik-adik belajar crafting flanel bersama Kak Ije

Menuju Kampung Literasi

Berlandaskan cita-cita Kampung Dwimulyo bahwa nantinya akan menjadi kampung yang memiliki masyarakat maju, kreatif, dan mandiri maka hal itu harus diretas dengan adanya akses menuju pendidikan dasar yang lebih baik. Para orangtua dibina baik untuk mengarahkan anak-anaknya agar pergi ke sekolah, dan meyakinkan bahwa para anak mereka tak cukup berhenti di pendidikan sekolah dasar saja. Kehadiran Perpustakaan Anugrah pada tahun 2011 bagaikan oase di tengah minimnya akses pendidikan bagi warga kampung Dwimulyo. Adalah Bu Insaf Setia sebagai penanggungjawabnya yang juga sebagai Kepala TK di Kampung Dwimulyo, yaitu istri dari Pak Sutrisno selaku orang pertama yang berkomunikasi dengan tim Sajubu. Pak Sutrisno berprofesi aktif di KUPT Dinas Pendidikan Kecamatan Rawa Jitu dan banyak memahami seluk beluk dunia pendidikan di Provinsi Lampung terutama wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Selain mereka berdua, ada Pak Ikhlas Setia yaitu kakak kandung dari Bu Insaf Setia yang banyak hilir mudik di dunia pendidikan wilayah Kabupaten Mesuji. Di bawah semangat dan antusiasme mereka bertiga, masyarakat Kampung Dwimulyo digiring untuk menuju kampung literasi yang aktif dan mandiri hingga pada tahun 2015 kemarin akhirnya Perpustakaan Anugrah dinobatkan menjadi Perpustakaan Terbaik di Kabupaten Tulang Bawang dan berhasil menyabet sebagai Juara I dalam Lomba Perpustakaan Desa tingkat Provinsi Lampung.

Semangat Baru

Kedatangan Sajubu yang disambut baik oleh semua pihak mulai dari anak-anak, bapak ibu hingga para pemangku kepentingan di Desa adalah bukti bahwa cita-cita mereka tidaklah main-main. Pengorbanan waktu, materi, dan lainnya membuat tersadar bahwa yang kami lakukan belum apa-apa, sejauh mana makna relawan yang telah melekat dalam diri para pegiat literasi. Dalam lamunan sempat mengingat kawan-kawan Buku Berkaki, Hibah Buku, Buku Untuk Papua, Buku Bagi NTT, dan Sagu Maluku yang selama ini banyak berkegiatan bersama Sajubu. Banyak kenyataan diluar sana yang menyatakan bahwa belum saatnya kita berhenti, karena boleh jadi semangat yang kita sampaikan lewat buku-buku yang dikirimkan itu menjadi bahan bakar baru bagi mereka yang sedang berjuang di kampung-kampung, pada setiap sudut desa di berbagai wilayah Indonesia demi masa depan adik-adik kita menuju bangsa yang lebih bermartabat.

Buku untuk Peprustakaan Anugrah

 

Tabik!

Oleh : Novita Anggraini

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Awal Mei 2014, Kak Diaz dihubungi Kak Selvi dari Goodreads Indonesia sehabis packing paket buku di Ruang Baca Kota, bertanya apakah kawan-kawan ‘1 Juta Buku Untuk Anak-anak Indonesia’ berkenan datang memenuhi undangan bincang komunitas di hari Sabtu pagi tanggal 17 Mei 2014.

Konfirmasi ke Kak Selvi dong, kenapa sih tertarik undang Sajubu, dan dia bilang kalau di hari Sabtu pagi RPK 96.3 FM ada acara #KlubSiaranGRI yang biasanya membahas soal buku tertentu. Nah karena soal buku, diundanglah Sajubu sebagai salah satu komunitas yang berkecimpung disitu. Pas ditanya soal apa saja yang harus disiapkan, eh malah dijawab “nanti yang cerewet aja yah”, hahaha. Loh itu sih ndak usah disuruh Kak 😀

Hingga pada 17 Mei 2014, berangkatlah Saya, Bang Eja, dan Kak Diaz mewakili relawan Sajubu lainnya, harusnya berlima sih ini, tapi yang lain agak gak rela disuruh bangun pagi di hari Sabtu karena memang kita harus siaran tepat jam 07.00 WIB. Hehe

Selain Kak Selvi, ternyata ada Kak Lia juga yang ikut mewawancarai kita. Sesi pertama wawancara ditanya soal Sejarah terbentuknya Sajubu, ya kami pun menyebutkan kalau ini buah pemikiran Bang Darwis a.k.a Tere Liye pada tahun 2010 silam (maaf ya Bang kalau harus disebut-sebut, kan memang begitu adanya) bersama beberapa penyuka buku di Kantor Penerbit Republika, Pejaten Village. Bagian ini banyak dijawab sama Bang Eja, maklum deh kalau soal sejarah kan pasti yang berumur lebih ngerti. Hihi

Semangat paginya Kak Lia dan Relawan Sajubu

Lanjut sesi kedua dan seterusnya, beneran deh Kak Selvi dan Kak Lia ini jago banget buat kita bawel dan gak lagi shy-shy-cat, jadi terasa gak on air karena memang pas off air obrolannya malah tambah seru.
Ada sms dan telepon masuk juga di tengah sesi untuk sekadar tanya dan memberikan semangat. Terima kasih 🙂

Yang jelas, terima kasih banyak untuk Kak Selvi dan Kak Lia karena sudah undang Sajubu untuk bincang serba-serbi kegiatan yang dilakukan, tepat saat Hari Buku Nasional pula. Semoga dengan begitu makin banyak orang yang tahu tentang kegiatan yang kami lakukan, membantu kami dalam menyebarkan informasi. Tetap berjaya untuk #KlubSiaranGRI-nya ya Kakak-Kakak. Tetap semangat, dan teruuuus semangat membaca buku yang menginspirasi yah!:)

Ki-Ka : Bang Eja, Kak Lia, Kak Selvi, Saya, Kak Diaz

Salam,
~dari kami yang selalu percaya bahwa Sebuah Buku Untuk Sejuta Mimpi