Melanjutkan Pekerjaan dalam Gorong-gorong

Kampanye Sajubu untuk mendukung minat baca anak-anak Indonesia adalah pekerjaan yang lebih banyak dilakukan di dalam gorong-gorong. Kami menggali di dalam gorong-gorong, memastikan bahwa peredaran ‘air’ di bawah jalan raya lancar dan sampai ke tempat yang seharusnya. Air dalam gorong-gorong kami adalah buku-buku titipan donatur. Gorong-gorong yang kami sebut adalah sebentuk mekanisme untuk mendistribusikan buku-buku tersebut ke perpustakaan atau taman baca yang sudah mendaftarkan diri di sisfosajubu.jejaring.org. Lebih sering memang kami bekerja di bawah tanpa ikut riuh terhadap apa yang terjadi di atas jalan raya. Cukuplah orang-orang tau bahwa aliran ‘air’ tetap lancar, mengalir sejauh yang seharusnya. Cukuplah kami melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong. Saya pikir semua organisasi, komunitas, kampanye maupun gerakan memiliki bargaining position masing-masing. Memposisikan diri adalah soal pilihan masing-masing, atau katakanlah sebagai ideologi dan falsasah khas komunitas.  Adalah wajar jika kami memilih bargaining position di dalam gorong-gorong. Selama ini kami bertahan di jalur gorong-gorong yang gelap, sunyi, tenang, dan lebih banyak tidak terlihat.

Terkadang kami memang perlu menghirup udara diatas , keluar dari gorong-gorong dan menampilkan diri sebagai bentuk ketunggalan Sajubu maupun sebagai bentuk sinergitas dengan komunitas lain. Lewat kunjungan-kunjungan perpus atau taman baca yang kami lakukan yang sifatnya non-rutin, misalnya kami membuat acara untuk bermain sambil belajar bersama adik-adik binaan taman baca. Kadang-kadang dalam kunjungan perpus atau taman baca kami melibatkan juga teman-teman dari komunitas lain. Sementara kegiatan seremonial yang diadakan Sajubu adalah syukuran ulang tahun Sajubu yang setiap bulan Oktober. Tak jarang kami menghadiri undangan dari komunitas serumpun ataupun instansi lain terkait misi budaya literasi.

Sajubu memiliki cara yang juga khas. Kami tidak membuka akses baca, dalam hal ini maksudnya Sajubu dengan ketunggalannya tidak pernah bekerja secara khusus untuk membangun perpustakaan atau taman baca baru di suatu daerah. Secara momentum atau sebagai bentuk kerjasama dengan berbagai pihak memang Sajubu pernah terlibat dalam pembangunan rumah baca. Akan tetapi Sajubu bukan sebagai pilar utama, Sajubu adalah penopang. Pembangunan-pembangunan rumah baca merupakan bentuk kerjasama suatu pihak inisiator dengan ‘meminta’ pendampingan Sajubu dalam tata kelola taman baca maupun dalam upaya pengumpulan buku untuk mempersiapkan taman baca.

Seperti yang telah disebutkan pada awal tulisan ini, kami adalah perpanjangan tangan donatur untuk menyalurkan buku-buku donasi ke perpus atau taman baca yang sudah terdaftar. Secara periodik Sajubu mengirimkan paket-paket buku ke perpus atau taman baca yang memenuhi kualifikasi. Pengurus perpus atau taman baca terlebih dahulu harus mendaftarkan perpus atau taman bacanya ke sisfosajubu.jejaring.org. Semua langkah-langkah pengajuan perpus ada dalam website ini. Tim relawan Sajubu akan menyeleksi perpus atau taman baca mana yang akan menerima paket-paket buku. Tidak ada kualifikasi khusus sebenarnya, asalkan perpus atau taman baca sudah berdiri minimal 1 tahun, data perpus atau taman baca lengkap (termasuk foto yang representatif) dan sudah mengkonfirmasi penerimaan buku sebelumnya lewat sisfosajubu.jejaring.org (jika sudah pernah mendapatkan buku dari Sajubu).Tetapi kebanyakan alasan kami menunda pengiriman buku ke suatu perpus atau taman baca yang meski telah lebih lama terdaftar adalah karena tidak melampirkan foto perpus atau taman baca yang representatif. Maksud dari representatif disini adalah foto tersebut mewakili keadaan buku-buku perpus dan mewakili kegiatan perpus. Mengingat banyaknya perpus atau taman baca yang terdaftar di sisfosajubu.jejaring.org (sampai akhir 2016 lalu ada lebih dari 2000 perpus atau taman baca), memang satu hal yang tidak bisa kami pastikan adalah soal pertanyaan-pertanyaan (baik via FB Sajubu, website, maupun via japri langsung ke relawan Sajubu) dari pengurus perpus terkait “Kapan perpus kami dikirimi buku?” atau “Berapa lama prosesnya sampai perpus kami dikirimi buku?”.

Dan saya kira saya harus membahas soal KKN (Kuliah Kerja Nyata), sejak beberapa tahun terakhir tim relawan Sajubu sering mendapat ajakan kerjasama dari mahasiswa-mahasiswa yang sedang KKN. Kebanyakan daerah mereka ditempatkan belum memiliki perpus atau taman baca, atau, jikapun sudah ada, perpus atau taman baca tsb belum terurus dengan baik. Dalam kasus tersebut kami akan selalu memberikan jawaban yang sama, “Silahkan daftar dulu ke sisfosajubu.jejaring.orgPerpustakaan sudah berdiri minimal 1 tahun.” Mengingat KKN sifatnya juga sementara, agar berkesinambungan pada akhirnya pengurusan perpus atau taman baca sebaiknya tetap dikelola oleh warga lokal.

Sekali lagi, Sajubu akan melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong. Sesekali memang kami perlu menghirup udara di atas jalan raya. Sekuat yang kami mampu, kami menjaga diri untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan di atas panggung yang keropos. Pekerjaan-pekerjaan yang hasilnya bisa saja dipoles agar terlihat megah dan gagah, padahal tidak menunjukkan keadaan sebenarnya karena bukan dibangun diatas pondasi yang kokoh. Jikapun harus membangun jalan layang atau memperbaiki jalan raya, Sajubu pun hanya sebagai salah satu penopang, yang melibatkan banyak pihak selaku pilar lainnya, bukan sebagai ketunggalan Sajubu.

Karena ketunggulan Sajubu adalah pekerjaan periodik di dalam gorong-gorong. Rasanya benar apa yang dipesankan oleh Kak Novita, bahwa, “Sajubu tidak perlu menjadi Titanic, yang besar, tetapi tenggelam di tengah jalan. Sajubu cukup jadi kapal phinisi, yang meski kecil namun mampu bertahan dalam perjalanan panjang.”

Bagi kami, mimpi tentang 1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia adalah mimpi bersama, mimpi milik semua orang. Jadi siapapun yang terlibat dalam aktivitas mendukung minat baca, utamanya dalam hal mengirim buku-buku ke pelosok negeri, adalah bagian yang juga mewujudkan mimpi kami. Semangat kami adalah semangat untuk meresonansi kepedulian terhadap minat baca. Siapapun yang peduli, bisa mewujudkan kepeduliannya itu dalam bentuk apapun, dalam bentuk bargaining position, ideologi, falsafah, atau cara khas apapun. Saya pikir semua cara memiliki kesempatan yang sama besar untuk perbaikan peradaban manusia di Indonesia. Dan beginilah cara kami, tetap melanjutkan pekerjaan dalam gorong-gorong.

Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

Resonansi, Doa, dan Harapan yang Membuka Tahun Keenam

1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia (Sajubu), menjadi nama komunitas yang diresmikan pada tanggal 31 Oktober 2010 di Jakarta.

Sehari sebelum genap memasuki tahun ke-6, di tanggal 30 Oktober 2016, Sajubu menggelar acara syukuran yang dihadiri oleh teman-teman beragam komunitas. E-corner Coffee Bogor yang menjadi basecamp Sajubu sejak awal September lalu, sepagi itu dipenuhi oleh tamu-tamu undangan Sajubu.  Kali ini, syukuran Sajubu bertajuk 6et Books, 6et Dreams. Teman-teman yang hadir sudah tersedot perhatiannya sedari penampilan pembuka yang berupa musikalisasi puisi yang berjudul “Kampung Halaman” oleh Kak Faris.

cef1d4a7-0bf2-47f6-888c-e0d236d5c50f

Setelahnya, Kak Yogi selaku MC memberi tempat kepada Mbak Ade Irma yang menjadi narasumber dalam diskusi literasi bertema: “Membaca: Budaya atau Kebutuhan.” Tak banyak paparan yang disampaikan Mbak Ade dalam pembuka diskusi yang dimoderatori oleh Kak Diaz itu. Harapannya memang agar diskusi bisa berlangsung secara silang arah. Maka durasinya lebih dialihkan kepada pertanyaan, sanggahan, bahkan curhatan tentang minat baca dari teman-teman yang hadir. Diskusi pun berlangsung dengan penuh aroma antusiasme. Teman-teman yang hadir memang kebanyakan adalah para pegiat komunitas yang peduli terhadap bidang literasi, seperti Buku Berkaki, Warung Blogger, Goodreads Indonesia, Hibah Buku, Komunitas Beraksi, Tangan Diatas, dan Jenguk, Yuk! Selain itu, Galih dan Ulfa dari Paguyuban Mojang Jajaka kota Bogor.

Mbak Ade Irma di tengah-tengah diskusi menyampaikan juga tipsnya untuk meningkatkan minat baca. Katanya, minat baca harus dimulai dari dukungan keluarga, kemudian mulai membaca dari hal-hal yang disukai, harus terus menumbuhkan rasa ingin tau, dan ikut berkumpul dan berdiskusi  dengan orang-orang yang gemar membaca. Ia juga menyampaikan bahwa menumbuhkan minat baca bukan tugas pemerintah saja, tetapi juga butuh kolaborasi dari multi-elemen. Mas Ingki, dari Harian Kompas, yang juga datang pada acara itu menambahkan bahwa sudah menjadi urgensi para aktivis literasi untuk merevolusi diri lebih in-line ke dalam perubahan zaman.

Bahkan Kak Adi dari komunitas Jenguk, Yuk! sepertinya begitu terbawa dalam arus diskusi hingga spontan membuat puisi dan membacakannya menjelang akhir diskusi. Sebagai penutup Mbak Ade Irma yang merupakan pegiat Aliansi Literasi Surabaya menyampaikan satu pesan, “kita memang harus melakukan pencitraan baik untuk menstimulasi orang-orang berbuat kebaikan juga.”

8d2bbaa2-d820-4fc7-a4ca-31d839d917b2

Usai diskusi literasi, Kak Novita menyampaikan brainstroming tentang dunia pergerakan literasi. Kilas balik Sajubu dari mulai terbentuk di 2010 silam hingga hari ini, sosialiasi sisfosajubu.jejaring.org sampai harapan-harapan ke depan mengenai resonansi yang dapat dilakukan oleh komunitas literasi lainnya bersama Sajubu. Beresonansi, menjadi kata yang dipilih Kak Novita sebagai pengganti istilah “bergerak bersama“.

Sebuah kue kecil dengan lilin berangka 6 yang  tertancap diatasnya pun ditiup sebagai simbolik seremoni syukuran. Setelah sebelumnya, semua yang hadir diminta untuk menyampaikan harapan dan doanya satu persatu secara bergiliran. Harapan-harapan dan doa-doa tentang Sajubu dan minat baca di negeri ini pun melambung tinggi-tinggi menembus langit mendung Bogor. Tetapi siapapun pun yang mendengar doa dan harapan-harapan  itu, rasanya akan berpikir bahwa optimisme dan semangat beresonansi untuk kemajuan literasi tidak akan mendung.

6 tahun berlalu, tapi mimpi kita masih sama. Sebuah buku, untuk sejuta mimpi. Get books, get dreams.

Mari beresonansi!

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Cultural Lag dalam Rantai Literasi

Membaca, hakikatnya adalah kegiatan yang kompleks. Namun aksesibilitas informasi yang sudah menyunami (lebih dari banjir), justru menghadirkan pengalaman-pengalaman membaca pada taraf yang amat menyedihkan.

Minat baca ibarat kecambah, sarat utama yang berupa hasrat atau dorongan untuk membaca. Satu hirarki diatasnya adalah kebiasaan membaca: kegiatan berulang-ulang untuk mensuksesi minat baca. Sedangkan budaya baca adalah ekskalasi paling ultima. Aksesibilitas bahan bacaan menjadi variabel yang tak bisa dihapus. Tanpa adanya aksesibilitas, maka minat tak akan bertransformasi sebagai kegiataan membaca, apalagi kebiasaan, apalagi budaya baca.

Continue reading

Eksplorasi Balai Kirti

Eksplorasi Balai Kirti

Kebangkitan Nasional adalah masa di mana bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia yang salah satunya ditandai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908. 108 tahun sudah berlalu, semoga semangat kebangkitan ini masih terpatri di hati pemuda-pemudi Indonesia.

Sebagai salah satu cara memperingati Hari Kebangkitan Nasional di tahun 2016 ini, Sajubu berkolaborasi bersama Terminal Hujan dan Beasiswa Alumni SMAKBo mengadakan event mengunjungi Museum Kepresidenan Republik Indonesia Balai Kirti yang berlokasi di kawasan Istana Kepresidenan Bogor. Untuk sedikit informasi, nama Kirti ini diambil dari Bahasa Sanskerta yang berarti kemasyhuran. Balai Kirti diresmikan pada tanggal 18 Oktober 2014 oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Museum ini didirikan di tanah seluas kurang lebih 3211,6 meter persegi, sebagai penghargaan atas karya dan prestasi dari presiden pertama sampai dengan keenam dalam membangun Indonesia. Dengan desain sedemikian rupa, semangat para presiden yang telah membangun dan berjasa bagi Indonesia dapat diresapi kehadirannya.

Ketika memasuki Balai Kirti di lantai pertama, pengunjung disambut oleh lambang negara Indonesia. Burung Garuda dengan gagahnya bertengger di pintu masuk, diapit oleh teks Proklamasi di sebelah kiri dan teks Pancasila di sebelah kanan. Ke arah kanan dari pintu masuk terpampang jelas teks pembukaan Undang Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia. Agak ke dalam, patung 6 presiden Republik Indonesia berdiri dengan gaya khasnya masing-masing. Ukuran patung ini sebesar 1,5 kali ukuran asli para presiden. Ruang museum lantai dua memamerkan barang-barang memorabilia pribadi milik para presiden terdahulu. Setiap presiden, masing-masing memiliki satu ruangan. Mulai dari pakaian lengkap dengan atributnya, yang biasa digunakan para presiden dalam menerima tamu kenegaraan, jam tangan kesayangan, kacamata yang digunakan, sampai foto-foto bersejarah dapat dilihat di lantai dua ini.

Setiap ruangan dilengkapi foto dan quotes dari masing-masing presiden.

Soekarno : “Jas Merah. Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah”

Soeharto : “Hanya sebutir pasir yang dapat kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik proklamasi”

B.J. Habibie : “Indonesia harus mengandalkan pada sumberdaya manusia yang berbudaya, merdeka, bebas, produktif dan berdayasaing tinggi”

K.H. Abdurrahman Wahid : “Tidak ada kekuasaan yan layak dipertahankan dengan pertumpahan darah”

Megawati Soekarnoputri : “Bendera telah aku kibarkan, pantang surut langkahku walau tinggal sendirian”

Susilo Bambang Yudhoyono : “Kekuasaan itu menggoda, gunakan dengan penuh amanah untuk kepentingan bangsa”

Di lantai dua juga terdapat ruang perpustakaan, surganya para pembaca buku. Buku-buku di ruang ini adalah buku koleksi pribadi para presiden. Pada kesempatan kali ini, rombongan Kami mendapatkan kesempatan emas untuk memasuki ruang perpustakaan dan berlama-lama menelisik koleksi buku apa saja yang ada di sana. Ruang perpustakaan saya nobatkan sebagai ruangan terfavorit se-Balai Kirti. Hehehe

Oleh : Jeni Fajarnisfi 

Deru Pesawat Terbang

Deru Pesawat Terbang

Pernahkah kalian naik angkot, lantas tiba-tiba dengan senang hati si sopir angkot bilang, “nggak usah bayar, Dik. Gratis hari ini”.

Pernahkah kalian pergi ke Kantor Kepala Desa, ke Kelurahan mengurus KTP, lantas petugasnya sambil tersenyum bilang, “tunggu sebentar ya, satu jam lagi KTP-nya pasti jadi”. Kemudian petugas mengurus dengan bersemangat, kesana-kemari, langsung jadi. Saat KTP ingin diambil, ingin memberi uang lebih karena ihklas, si petugas sambil nyengir bilang, “maaf tidak usah Mbak, sudah kewajiban kami kok”

Pernahkah kalian ditilang Polisi, lantas Pak Polisi hanya menepuk bahu, tersenyum seraya mengatakan, “besok jangan lupa helm-nya ya Mas, ayo silahkan jalan lagi”.

Pernahkah kalian bertemu dokter, berobat, diterima dengan senyum, dijelaskan dengan rinci, bahkan dia pandai sekali memberi tips agar sakit tak terulang, saat hendak membayar, “ini no hp saya ya, besok lusa kalau ada keluhan nggak usah datang, sms atau telepon saja, kan repot jauh datang”.

Pernahkah kalian punya teman yang mau berbagi apa saja, punya tetangga yang baik dan suka mengirim makanan? Pernahkah…

Kemanakah pendidikan akhlak itu, yang tersisa hari ini adalah : sopir angkot galak mengejar setoran, petugas yang jangankan berpikir mengabdi, dokter dengan kepedulian terbatas, polisi yang lebih sering menyusahkan dibandingkan mengayomi, kawan yang sering mengajak kesia-siaan, tetangga yang kotor dan dengki hatinya.

Kemanakah akhlak mulia itu. Maka jangan tanya pemimpin-pemimpin kita, jangan tanya orang-orang yang memiliki kekuasaan, acara-acara di televisi sudah penuh dengan kehidupan glamour orang menengah ke atas.

Mulai hari ini, mari kita meneguhkan hati, merapatkan barisan, kesempatan itu tetap ada, ketika generasi baru terlahirkan dengan akhlak cemerlang bagai mutiara. Mari kita serbu rumah-rumah mereka, kamar-kamar mereka, ruang makan, ruang tamu dengan buku-buku. Buku-buku yang dibaca oleh anak-anak mereka, maka ketika keadaan sekitar begitu rusaknya memberi teladan, semoga dengan buku-buku yang baik mereka akan terinspirasi sebuah kebaikan juga. Sesuatu yang disebut akhlak mulia.

Seperti deru pesawat terbang, membuat bergetar kolam tenang 30.000 kaki di bawahnya, membuat bergetar jendela-jendela rumah.

Begitulah kebaikan yang akan membuat bergetar hati kita.

* * *

Oleh : Novita Anggraini

Catatan Kecil Kampung Dwimulyo

Kunjungan semester tim Sajubu di akhir 2015 pun akhirnya harus berlabuh di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, tepatnya di Perpustakaan Anugrah yang terletak di Kampung Dwimulyo, Kecamatan Penawartama sekitar 120 km dari Ibukota Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung.

Mengapa Perpustakaan Anugrah?

Berawal dari kegagalan kordinasi dengan salah satu taman baca yang tak jauh posisinya dari Taman Nasional Way Kambas, kami anggap pihak penanggung jawab belum konsen untuk melakukan pengelolaan taman baca. Sedangkan buku-buku donasi sudah disiapkan baik dari Sajubu sendiri maupun pihak komunitas donatur buku lain seperti Buku Berkaki juga donasi perorangan. Merasa sayang dengan buku yang telah terkumpul, maka saya mewakili tim langsung membuka sistem aplikasi berbasis web milik Sajubu, sisfosajubu.jejaring.org. Mengetik keyword ‘lampung’ pada list perpustakaan dan akhirnya mendapati Perpustakaan Anugrah pada sisfosajubu sebagai salah satu pengaju berstatus non-aktif yang artinya perpustakaan ini belum merima kiriman buku dari Sajubu. Salah satu alasan kuat yang membuat saya harus menghubungi pihak penanggung jawab adalah Perpustakaan Anugrah mencantumkan link video YouTube kegiatan Kemah Perpustakaan yang terlihat menarik juga penghargaan yang diterima sebagai Tak kurang dua minggu dari jadwal keberangkatan saya baru menghubungi Pak Sutrisno, yang nomornya dijadikan narahubung Perpustakaan Anugrah pada sistem basis data informasi kami. Nasib baik bagi buku-buku yang telah disiapkan, mereka mendapatkan tempat baru di Lampung, Pak Sutrisno menyambut baik niat kedatangan tim Sajubu dan telah mengumumkan antusiasme teman-teman Desa Dwimulyo pada akun facebook di kali pertama kami mengubunginya.

Dari Jakarta ke Tulang Bawang

24 Desember 2015, jam 08.00 pagi para kuli kardus baru lengkap berkumpul di Terminal Kampung Rambutan. Dua tas besar berisi buku-buku yang dibawa oleh kuli kardus Sajubu (Saya, Kak Jeni, Kak Ije, Kak Hilda, Henita) beserta Ibu pun tersimpan rapi di bagasi bis Primajasa Kp.Rambutan – Merak, dilanjutkan dengan Kapal Ferry penyebrangan Selat Sunda, Merak – Bakaheuni. Tiba di Lampung pukul 16.00 WIB dan perjalanan menuju Perpustakaan Anugrah harus dilanjutkan lagi dengan travel sewaan rekomendasi Pak Sutrisno yang katanya sudah fasih daerah tujuan kami. Kurang lebih 250 km jarak tempuh dari Merak menuju Tulang Bawang, dan benar saja saran Pak Sutrisno agar kami memilih travel yang sudah disediakan saja karena sang pengemudi yang belakangan akrab kami sapa Pak Ardi berdomisili Mesuji telah kenal baik dengan tempat yang akan kami kunjungi, karena sebelumnya memang ada pertimbangan untuk menggunakan transportasi umum menuju Tulang Bawang dari Pelabuhan Merak.

Setelah beberapa kali berhenti, menaksir-naksir jalan dan rumah yang semakin masuk ke dalam perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta, akhirnya kami berhasil menemukan Rumah Pak Sutrisno yang sekaligus menjadi keberadaan Perpustakaan Anugrah tepat di pukul 12.00 malam. Terlihat wajah lega dari Pak Sutrisno beserta sekeluarga ketika menyambut kedatangan kami, mungkin beliau cemas tamu jauhnya tak kunjung sampai sedari sore. Bukannya langsung istirahat kami justru mengobrol banyak tentang kegiatan perpustakaan dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Penawartama, juga hal paling mendasar yang membuat saya penasaran sejak menemukan Perpustakaan Anugrah pada sistem informasi 1 Juta Buku yaitu tautan video Jambore Perpustakaan yang diikuti oleh ratusan siswa-siswi sekolah juga masyarakat sekitar. Mengapa mereka sangat bekerja keras untuk memprakarsai keberadaan perpustakaan ini?

Adik-adik belajar crafting flanel bersama Kak Ije

Menuju Kampung Literasi

Berlandaskan cita-cita Kampung Dwimulyo bahwa nantinya akan menjadi kampung yang memiliki masyarakat maju, kreatif, dan mandiri maka hal itu harus diretas dengan adanya akses menuju pendidikan dasar yang lebih baik. Para orangtua dibina baik untuk mengarahkan anak-anaknya agar pergi ke sekolah, dan meyakinkan bahwa para anak mereka tak cukup berhenti di pendidikan sekolah dasar saja. Kehadiran Perpustakaan Anugrah pada tahun 2011 bagaikan oase di tengah minimnya akses pendidikan bagi warga kampung Dwimulyo. Adalah Bu Insaf Setia sebagai penanggungjawabnya yang juga sebagai Kepala TK di Kampung Dwimulyo, yaitu istri dari Pak Sutrisno selaku orang pertama yang berkomunikasi dengan tim Sajubu. Pak Sutrisno berprofesi aktif di KUPT Dinas Pendidikan Kecamatan Rawa Jitu dan banyak memahami seluk beluk dunia pendidikan di Provinsi Lampung terutama wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Selain mereka berdua, ada Pak Ikhlas Setia yaitu kakak kandung dari Bu Insaf Setia yang banyak hilir mudik di dunia pendidikan wilayah Kabupaten Mesuji. Di bawah semangat dan antusiasme mereka bertiga, masyarakat Kampung Dwimulyo digiring untuk menuju kampung literasi yang aktif dan mandiri hingga pada tahun 2015 kemarin akhirnya Perpustakaan Anugrah dinobatkan menjadi Perpustakaan Terbaik di Kabupaten Tulang Bawang dan berhasil menyabet sebagai Juara I dalam Lomba Perpustakaan Desa tingkat Provinsi Lampung.

Semangat Baru

Kedatangan Sajubu yang disambut baik oleh semua pihak mulai dari anak-anak, bapak ibu hingga para pemangku kepentingan di Desa adalah bukti bahwa cita-cita mereka tidaklah main-main. Pengorbanan waktu, materi, dan lainnya membuat tersadar bahwa yang kami lakukan belum apa-apa, sejauh mana makna relawan yang telah melekat dalam diri para pegiat literasi. Dalam lamunan sempat mengingat kawan-kawan Buku Berkaki, Hibah Buku, Buku Untuk Papua, Buku Bagi NTT, dan Sagu Maluku yang selama ini banyak berkegiatan bersama Sajubu. Banyak kenyataan diluar sana yang menyatakan bahwa belum saatnya kita berhenti, karena boleh jadi semangat yang kita sampaikan lewat buku-buku yang dikirimkan itu menjadi bahan bakar baru bagi mereka yang sedang berjuang di kampung-kampung, pada setiap sudut desa di berbagai wilayah Indonesia demi masa depan adik-adik kita menuju bangsa yang lebih bermartabat.

Buku untuk Peprustakaan Anugrah

 

Tabik!

Oleh : Novita Anggraini

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Awal Mei 2014, Kak Diaz dihubungi Kak Selvi dari Goodreads Indonesia sehabis packing paket buku di Ruang Baca Kota, bertanya apakah kawan-kawan ‘1 Juta Buku Untuk Anak-anak Indonesia’ berkenan datang memenuhi undangan bincang komunitas di hari Sabtu pagi tanggal 17 Mei 2014.

Konfirmasi ke Kak Selvi dong, kenapa sih tertarik undang Sajubu, dan dia bilang kalau di hari Sabtu pagi RPK 96.3 FM ada acara #KlubSiaranGRI yang biasanya membahas soal buku tertentu. Nah karena soal buku, diundanglah Sajubu sebagai salah satu komunitas yang berkecimpung disitu. Pas ditanya soal apa saja yang harus disiapkan, eh malah dijawab “nanti yang cerewet aja yah”, hahaha. Loh itu sih ndak usah disuruh Kak 😀

Hingga pada 17 Mei 2014, berangkatlah Saya, Bang Eja, dan Kak Diaz mewakili relawan Sajubu lainnya, harusnya berlima sih ini, tapi yang lain agak gak rela disuruh bangun pagi di hari Sabtu karena memang kita harus siaran tepat jam 07.00 WIB. Hehe

Selain Kak Selvi, ternyata ada Kak Lia juga yang ikut mewawancarai kita. Sesi pertama wawancara ditanya soal Sejarah terbentuknya Sajubu, ya kami pun menyebutkan kalau ini buah pemikiran Bang Darwis a.k.a Tere Liye pada tahun 2010 silam (maaf ya Bang kalau harus disebut-sebut, kan memang begitu adanya) bersama beberapa penyuka buku di Kantor Penerbit Republika, Pejaten Village. Bagian ini banyak dijawab sama Bang Eja, maklum deh kalau soal sejarah kan pasti yang berumur lebih ngerti. Hihi

Semangat paginya Kak Lia dan Relawan Sajubu

Lanjut sesi kedua dan seterusnya, beneran deh Kak Selvi dan Kak Lia ini jago banget buat kita bawel dan gak lagi shy-shy-cat, jadi terasa gak on air karena memang pas off air obrolannya malah tambah seru.
Ada sms dan telepon masuk juga di tengah sesi untuk sekadar tanya dan memberikan semangat. Terima kasih 🙂

Yang jelas, terima kasih banyak untuk Kak Selvi dan Kak Lia karena sudah undang Sajubu untuk bincang serba-serbi kegiatan yang dilakukan, tepat saat Hari Buku Nasional pula. Semoga dengan begitu makin banyak orang yang tahu tentang kegiatan yang kami lakukan, membantu kami dalam menyebarkan informasi. Tetap berjaya untuk #KlubSiaranGRI-nya ya Kakak-Kakak. Tetap semangat, dan teruuuus semangat membaca buku yang menginspirasi yah!:)

Ki-Ka : Bang Eja, Kak Lia, Kak Selvi, Saya, Kak Diaz

Salam,
~dari kami yang selalu percaya bahwa Sebuah Buku Untuk Sejuta Mimpi