Pentingnya Mengedukasi Donatur Buku

Saya berkegiatan di sebuah komunitas yang menjadi perpanjangan tangan dari donatur buku kepada perpustakaan atau taman baca. Kami menerima donasi buku dari mula penerbit, penulis, perorangan, sampai program sinergi dari beberapa organisasi atau program CSR (Corporate Social Responsibility). Buku-buku dari penerbit dan dari penulis biasanya adalah buku-buku baru yang masih disegel. Sementara buku-buku dari donatur lainnya biasanya buku-buku bekas koleksi pribadi maupun hasil program penggalangan donasi buku.

Untuk donasi buku-buku baru apabila judulnya memang sesuai dengan kebutuhan perpus/taman baca. kami tidak perlu lagi melakukan sortir. Tetapi lain halnya dengan donasi buku-buku bekas, menyortir adalah pekerjaan yang lumayan memakan waktu. Membongkar satu-satu dus kiriman donatur, dan memperhatikan betul kondisi fisik dan judul buku. Suatu kali saya dan relawan lainnya pernah memisahkan sekarung buku donasi dari program kerjasama dengan salah organisasi otomotif. Karung itu hendak kami “sumbangkan” saja ke pengumpul barang bekas. Setelah menyortir, dari seluruh buku donasi yang kami terima, kurang lebih jumlahnya diatas 1000 buku, hanya satu dus saja yang menurut kami cocok untuk dikirim ke perpus/taman baca yang sudah terdaftar di sistem kami. Selebihnya adalah buku-buku pelajaran dan LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kurikulumnya sudah tidak berlaku. Pernah lagi kami mendapat beberapa kardus besar berisi buku-buku kitab kedokteran, penampakan fisik buku-buku tersebut pun sudah sangat lusuh, seperti bekas kehujanan. Tidak ada pilihan lain selain “menyumbangkan” model buku seperti itu kepada pengumpul barang bekas. Pernah juga kami menerima kiriman novel-novel stensil, ini pun tidak cocok sebagai bacaan anak-anak. Pun kami sering mendapati donasi buku yang tak layak secara fisik, misalkan buku yang sudah banyak coretan menggunakan pulpen (tidak bisa dihapus), buku yang covernya sudah lepas. Bahkan tak jarang ada yang menyumbang buku tulis, buku agenda, dan binder yang sudah penuh disini.

Pengalaman-pengalaman seperti itu akhirnya membuat saya sempat pesimis mengenai cara mengedukasi para donatur buku. Bagaimana mengubah pola pikir bahwa perpustakaan atau taman baca bukanlah “tong sampah” yang sekedar menerima buku-buku tak terpakai? Bagaimana membuat orang-orang paham bahwa mendonasikan buku artinya seiring dengan harapan bahwa buku-buku yang sampai pada penerima yang tepat dan akan dibaca dan berguna?

Padahal di website komunitas kami ini sudah jelas tercantum bahwa kami menerima donasi buku-buku anak sampai usia sekolah tingkat SMA. Dan pada proyek tertentu kami memang menerima buku pelajaran, tetapi sesuai kurikulum yang berlaku. Untuk donatur yang memberikan buku tidak terlalu banyak jumlahnya, kami masih bisa mengontrol dengan meminta daftar buku foto buku-buku tersebut sebelum dikirimkan. Setelah menerima data dari donatur barulah kami memutuskan buku-buku mana yang bisa kami terima.  Proses “selektif” di awal ini akan mengurangi resiko menerima donasi buku yang tak tepat. Selektif memilih donasi buku akan lebih mengefisiensi waktu untuk menyortir, sehingga tenaga relawan dapat dialihkan untuk kegiatan operasional lainnya. Tetapi lain halnya jika donasi buku yang kami terima dalam jumlah besar, biasanya program kerjasama dengan beberapa organisasi. Fungsi kontrol tadi agak sulit untuk diterapkan.

Pengalaman-pengalaman “buang-buang” buku seperti yang saya ceritakan di paragraf awal biasanya terjadi ketika program penggalangan buku terpatok pada “jumlah”. Buku apapun, yang penting mencapai jumlah target, begitulah prinsip program-program itu. Kemudian angka jumlah buku yang berhasil dikumpulkan tersebut dipajang besar-besar dalam seremoni penyerahan buku. Sebuah bentuk kegegabahan mendonasikan buku demi mengejar “jumlah” ini mestilah dihindari. Maka menjadi begitu penting mengedukasi donatur buku.

Suatu kali bahkan teman saya pernah mengkritik dengan konsep menyumbang buku bekas. Baginya buku adalah sesuatu yang meski diwariskan ke anak-cucu, bukan malah disumbangkan. Saya tak lantas menyalahkan pemikiriannya. Saya hanya sampaikan bahwa ada orang-orang yang memang merasa beberapa bukunya sudah tak terpakai lagi, bahkan untuk anak cucunya kelak. Dan merasa lebih baik jika disumbangkan. Donasi buku baru lebih baik, tapi jika ingin mendonasikan buku bekas maka berikanlah  buku-buku yang masih layak.

Apalagi dengan program adanya “free cargo literacy” setiap tanggal 17, fasilitas yang memungkinkan donatur  yang berlomba-lomba mengirim donasi buku langsung ke taman baca yang sudah terdaftar di sistem donasi buku Kepmendikbud (http://donasibuku.kemdikbud.go.id/page/tentang-kita ). Sedikitnya ada dua hal yang sebaiknya diperhatikan donatur sebelum mengirim donasi buku bekas ke taman baca.

Pertama, kenali profil perpus/taman baca yang akan dikirimi buku. Mulai dari demografi, rata-rata pengunjung setiap harinya, fasilitas (seperti luas bangunan, jumlah rak, dll bisa terlihat dari foto), program yang sedang dijalankan pengurus taman baca. Dan bahkan lebih baik jika meminta informasi dari pengurus perpus/taman baca tentang buku-buku apa saja yang sedang dibutuhkan. Dengan mengenal profil taman baca maka kita dapat menentukan buku-buku apa saja yang cocok untuk taman baca tersebut. Misalnya untuk taman baca yang berada di wilayah perkebunan, bisa dikirim buku tentang perkebunan dan buku pengolahan hasil kebun. Dengan mengetahui fasilitas taman baca dan rata-rata pengunjung setiap harinya kita dapat mengestimasi jumlah buku yang sesuai . Tidak ada yang salah dengan banyaknya buku yang diterima taman baca, selama buku tersebut dibaca. Penumpukan buku di suatu taman karena buku-buku tidak tepat guna, atau karena jumlah buku tidak sebanding dengan kapasitas taman baca. Misal pengunjung sehari hanya 15 orang, dan rak buku terbatas. Ketika datang donasi buku yang membludak maka koleksi buku tidak tertampung di rak, dan kardus-kardus dibiarkan saja. Padahal mungkin ada taman baca lainnya dengan jumlah pengunjung yang lebih banyak, dengan ruangan dan fasilitas yang dapat menampung banyak buku. Dan buku-buku tentu akan lebih memiliki nilai gunda ketika sampai pada penerima yang tepat. Misalkan buku-buku teks universitas jika dikirimkan ke taman baca yang jauh dari kampus dan rata-rata pengunjungnya berusia anak-anak, apakah akan dibaca?

Kedua, melakukan sortir buku sebelum mengirim buku, baik kondisi fisik buku maupun konten buku. Fungsi menyortir sebelum pengiriman buku tidak dapat dihilangkan. Ketika mengirim buku tanpa sortir terlebih dahulu, maka sortir buku menjadi beban penerima buku. Ini menjadi tidak efisien, karena buku sudah terlanjur dikirim lintas kota, provinsi, bahkan pulau. Dan sampai di tempat penerima pun, buku-buku yang tidak tepat tersebut  hanya menjadi pajangan, kalau tidak berakhir lagi di “pengumpul barang bekas”.Untuk sortir buku secara fisik, silahkan jawaban pertanyaan : apakah buku masih layak secara fisik? Tidak sobek, masih bisa dibaca seluruh halamannya? Jika buku masih layak baca, tapi ada coretan-coretan pensilnya, maka hapus dulu coretan-coretan tersebut. Jika ditemukan cover buku sudah agak lusuh, tetapi tidak ada bagian buku yang sobek dan masih layak dibaca, sebaiknya buku tersebut disampul ulang. Menyortir kondisi fisik buku juga dilakukan paralel dengan menyortir konten buku, apakah buku tersebut sesuai dengan kebutuhan taman baca (seperti yang dijelaskan di poin pertama)? Buku-buku yang tidak sesuai dengan kebutuhan suatu taman baca sebaiknya dialihkan ke taman baca lain yang memerlukan. Atau jika memang ada judul buku yang tidak cocok disumbangkan ke taman baca manapun, sebaiknya tidak usah mengirimkan buku tersebut. Sekali lagi, taman baca bukanlah “tong” penampung segala bentuk dan jenis buku.

Donasi buku adalah kegiatan yang baik yang menunjukkan kepedulian terhadap persebaran minat baca, tetapi jangan sampai donasi buku justru membebankan komunitas atau taman baca. Tidak hanya donasi buku, dalam penggalangan donasi lainnya pun saya sering menemukan kondisi barang donasi yang tidak , layak: pakaian robek, sepatu jebol, dan lain sebagainya. Entah mengapa, banyak orang masih menganggap, donasi artinya “membuang” barang tak terpakai ke orang lain yang (mungkin membutuhkan). Pola pikir seperti ini sudah seharusnya diubah.

Mengedukasi donatur buku memang bukan proses yang bisa cepat, karena urusannya adalah mengubah pola pikir. Tapi mari mulai dari diri, sebelum kamu hendak mendonasikan buku coba posisikan dulu dirimu sebagai penerima buku, apa kamu mau menerima buku-buku yang secara fisik sudah tak layak baca? Apakah kamu mau menerima buku teks kedokteran yang tak sesuai dengan bidangmu?

Bagi saya, memberikan donasi buku yang layak secara fisik maupun konten adalah suatu bentuk perhormatan terhadap penerima donasi. Saya selalu mengulang-ngulang menyampaikan ini: bahwa mengirimkan buku ke perpustakaan atau taman baca (yang memiliki koleksi buku terbatas) hanya bagian dari upaya membuka akses baca seluas-luasnya. Sementara, tentang kegiatan literasi, tidak selesai dengan menyumbang buku dalam jumlah banyak , apalagi buku yang tidak layak.

 

(tulisan ini pertama kali tayang di Jabaraca.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *