Gaung Senyap Hari Buku Sedunia

Gaung Senyap Hari Buku Sedunia

Di Indonesia, gaung perayaan Hari Buku Sedunia seolah terdengar senyap. Kita seolah luput dari perayaan tersebut, jika pun ada hanya perayaan-perayaan komunal yang digagas komunitas baca atau organisasi nirlaba lainnya, bukan perayaan nasional. Telinga kita lebih populer dengan peringatan hari buku lokal, yaitu Hari Buku Nasional (Harbuknas) yang jatuh setiap 17 Mei, bertepatan dengan momentum peresmian perpustakaan nasional.

Dalam kesenyapan kita, beberapa bagian dunia ramai menggaungkan Hari Buku Sedunia. Misalnya, Swedia merayakan Hari Buku Sedunia dengan menyelenggarakan kontes buku terbaik yang dipilih, baik oleh anak-anak maupun dewasa. Irlandia menyelenggarakan festival buku sebulan penuh di ibukota negara, Dublin. Di Brazil berbagai toko buku menyampaikan kampanye mengenai kesusasteraan untuk anak-anak. Sejak tahun 2008, Mexico mengadakan pembacaan buku di depan publik selama 12 jam berturut-turut.

Sejak tahun 1995 UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai “World Day Book” atau Hari Buku Sedunia. Tanggal tersebut bertepatan dengan kematian beberapa penulis kenamaan dunia yang berpegaruh pada jamannya, sebut saja seperti  Shakespeare, Cervantes, Inca Garcilaso de la Vega, serta Joseph Pla dan beberapa penulis juga lahir Vladimir Nabokov, Maurice Druon, Manuel Mejía Vallejo, dan Haldór Laxness. World Book Capital City 2016 jatuh kepada Wroclaw (Polandia).  Dan Conakry (Republik Guinea) menjadi kandidat yang dipertahankan sebagai World Book Capital City 2017. World Book Capital City adalah pengakuan eksklusif simbolis dari UNESCO atas program terbaik yang didedikasikan untuk buku dan membaca.

Sebelum jauh-jauh berambisi tentang  World Book Capital City  di Indonesia, kita masih berkutik pada pembudayaan membaca di lini pendidikan dasar. Sudah bukan menjadi rahasia mengenai riset minat baca di Indonesia, Berdasarkan data United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada 2012, indeks minat membaca masyarakat Indonesia baru mencapai angka 0,001. Artinya, dari setiap 1.000 orang Indonesia hanya ada 1 orang saja yang punya minat baca. Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mencatat 90 persen penduduk usia di atas 10 tahun gemar menonton televisi, tetapi tidak suka membaca buku. Di negara maju setiap penduduknya membaca 20 hingga 30 judul buku setiap tahun. Sebaliknya di Indonesia, penduduk hanya membaca paling banyak tiga judul buku dan itu pun masyarakat usia 0-10 tahun.

Menilik fakta-fakta tersebut, per tahun 2015 silam kewajiban membaca sudah masuk ke ranah konstitusional, lewat Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayan (Permendikbud) No. 21/2015 tentang kewajiban membaca selama 15 menit. Dan di tahun 2016 ini adalah tahun sosialisasi regulasi tersebut. Sebanyak 514 sekolah unggulan dipilih Kemendikbud sebagai mitra, yang nantinya masing-masing sekolah-sekolah tersebut perlu melanjutkan estafet binaan ke 5 sekolah lainnya. Langkah tersebut adalah angin segar yang memicu optimisme terhadap budaya membaca. Seperti efek domino, peraturan pemerintah pusat itu pun mengimbas pada program-program pemda dan sekolah-sekolah. Penumbuhan minat baca pun menjadi konsen beberapa pemerintah daerah, misalnya Yogyakarta yang disinyalir sebagai kota dengan minat baca tertinggi se-Indonesia. Pemerintah kota Surabaya, DKI Jakarta, Bandung, Jayapura, Depok, Sidoarjo, Kediri dan beberapa kota lainnya mulai menggulirkan program-program yang pro terhadap pembudayaan membaca.

Namun pemerintah pusat dan pemerintah daerah bukanlah dwi-tunggal yang menjadi aktor utama dalam misi tersebut. Bersyukurnya, hari ini kita melihat ada ribuan komunitas baca atau organisasi nirlaba dengan caranya masing-masing juga fokus berjibaku terhadap pembudayaan minat baca. Bersyukurnya, Indonesia masih memiliki ribuan orang tanpa kepentingan yang menuangkan kegelisahan mereka terhadap minat baca dalam bentuk aksi nyata. Perusahaan-perusahaan multinasional pun mulai melirik persoalan minat baca sebagai ladang emas garapan program CSR-nya (Corporate Social Responsibilty). Komunitas-komunitas, organisasi-organisasi nirlaba, serta program CSR perusahaan adalah stakeholder pemerintah dan sekolah-sekolah dalam misi pembudayaan minat baca.

Jika kembali kepada esensi dari perayaan Hari Buku Dunia, yaitu sebagai bentuk penghargaan antara penulis, penerbit, distributor, organisasi perbukuan, serta komunitas dan masyarakat umum. Semuanya bekerja sama untuk mempromosikan buku dan literasi, serta meningkatkan nilai–nilai sosial budaya kemanusiaan. Maka hari ini, yang belum kita lihat adalah sinergitas antara pemerintah, industri penerbitan buku, dan distributor-distributor buku yang dapat menggemakan minat baca. Karena, tak bisa dipungkiri bahwa 1 dari 1000 orang Indonesia yang memiliki minat baca tersebut masih mengeluhkan soal harga-harga buku yang kian mencekik intelektual mereka. Kita masih ketinggalan dengan India dan beberapa negara lain yang sudah menerapkan program buku murah atau yang biasa disebut dengan low-price edition book.

Pemerintah sebagai garda depan misi pembudayaan minat baca, didukung oleh sekolah-sekolah, pendidik, komunitas, organisasi, dan program-program CSR perusahaan. Sementara regulasi pemerintah pun sudah semestinya menggandeng industri penerbitan buku, dan distributor sebagai sayap samping yang ikut melahirkan sebuah negara yang ramah buku. Ada satu hal yang kita tidak boleh luput, yaitu pembudayaan minat baca di skala keluarga atau basis rumahan. Di luar sosialisasi dan induksi-induksi tentang minat baca di lingkungan sekolah, kita tidak boleh lupa bahwa waktu terbanyak anak-anak adalah di rumah. Kita akan digandrungi oleh sebuah pertanyaan besar: seberapa banyak keluarga yang menerapkan ‘rumah ramah buku’? Sebaik-baiknya nasihat adalah mencontohkan. Percontohan dari lingkungan keluarga adalah bagian yang tak bisa dihapus dalam sebuah misi revolusi budaya.

Jika hari kemarin, yang bertepatan dengan Hari Buku Sedunia, negara kita masih senyap, kelak, dengan sinergitas, optimisme, dan konsistensi  semua komponen, tak mustahil kita pun bisa ikut riuh dalam perayaan tersebut. Jadi, daripada sinis dengan fakta-fakta lesunya minat baca, lebih baik mulai ambil bagian dalam revolusi budaya baca.

Sumber ilustrasi: y72015.kehsblogs.net