Merekam Tawa dalam Kolaboraksi di Permata Insani

Merekam Tawa dalam Kolaboraksi di Permata Insani

 

Panti Asuhan Yayasan Permata Insani yang letaknya tak jauh dari pintu keluar tol Cijago Depok, menjadi tempat ‘Tebar Buka’ ketujuh selama rangkaian acara SERABI (Semangat Ramadhan Berbagi dan Peduli). SERABI digagas oleh DKM Masjid Yusuf BDI PT Medco Energi dan berkolaborasi dengan Sajubu dan @thestreetstore. Selama Ramadhan ini, Open Drop Box di Mesjid Yusuf Energi Building menampung donasi untuk makanan berbuka, paket sembako, buku-buku dan sandang layak pakai. Makanan berbuka dan paket sembako akan disalurkan ke 19 panti asuhan di Jabodetabek dalam subacara yang disebut Tebar Buka. Sedangkan buku-buku donasi yang terkumpul akan diamanahkan kepada SAJUBU untuk disalurkan kepada perpustakaan-perpustakaan yang terdaftar di sisfosajubu. Sandang layak pakai pun akan di estafet ke thestreetstore untuk disalurkan kembali kepada yang membutuhkan.

Mas Sigit, penanggung jawab dari DKM Mesjid Yusuf BDI memang secara khusus meminta Sajubu untuk dapat hadir dan menghibur adik-adik di beberapa panti asuhan yang sudah dijadwalkan. Sajubu yang memang tergabung dalam naungan Komunitas Beraksi, mengajak beberapa komunitas literasi lainnya untuk #kolaboraksi dalam mengisi acara.

Rabu lalu tanggal 15 Juni lalu, kami sedikit berbelok dari arah pulang biasanya, menuju Panti Asuhan Yayasan Permata Insani. Kak Fadila dari Ayo Dongeng Indonesia, misalnya, yang jauh-jauh berangkat dari domisilinya di Pasar Minggu, demi mendongeng. Tak sia-sia, perempuan ceria dengan suara lantang itu pun mampu menyedot perhatian sekitar 70an adik-adik binaan panti. Mereka larut dalam cerita yang dibawakan Kak Fadila. Padahal acara Tebar Buka tersebut dimulai di sore hari, saat sisa energi mereka kian tipis.

Pun dengan Kak Willy, founder komunitas BukuBagiNTT, yang datang dari bilangan Kuningan untuk memandu games dan ice breaking. Dengan bantuan kakak-kakaknya lainnya, seperti Kak Anaz, Kak Nopi, dan Kak Like membuat adik-adik binaan panti bertambah antusias dan semangat mengikuti games. Seolah membuat mereka lupa dengan penantian terhadap adzan magrib sedari siang. Kami merekam tawa, canda, dan keceriaan kental kentara di acara yang hanya berlangsung satu setengah jam tersebut.

Setelah pembagian hadiah games berupa buku, adik-adik pun duduk rapih kembali untuk persiapan berbuka. Usai menikmati makanan pembuka, dilanjutkan dengan solat magrib berjamaah. Setelah itu, masing-masing adik diberikan nasi box. Tidak semua adik-adik binaan tinggal di asrama, kebanyakan mereka pulang ke rumah yang letaknya pun tak terlalu jauh dari panti. Adik-adik binaan terdiri dari berbagai kelompok usia, dari usia pra sekolah sampai SMP. Beberapa memang masih sangat kecil, bahkan terlihat sampai kewalahan saat membawa nasi box.

Selain Mas Sigit, Pak Dani sebagai perwakilan DKM Mesjid BDI pun hadir dalam Tebar Buka tersebut. Doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan pengurus panti menjadi tanda harus berakhirnya kebersamaan di petang kemarin.

“Kakak.. kakak.. nanti kesini lagi, ya!” pesan seorang adik, seperti tidak rela atas kepulangan kami.

Dan inilah yang menjadi hutang kami selanjutnya. Semoga ada kesempatan untuk berkunjung kembali ke bangunan yang baru ditempati sejak Maret 2016 lalu. Sebelumnya, lokasi panti memang sempat berpindah-pindah karena pengelola panti masih mengontrak rumah. Siapa menyangka, bangunan dua lantai yang cukup besar dengan tembok bercat putih tersebut adalah hasil tabungan dari donasi yang masuk ke yayasan selama empat tahun.

Tebar Buka selanjutnya yang kembali diisi oleh teman-teman Komunitas Beraksi akan berlangsung pada Senin, 27 Juni nanti di Panti Asuhan Keluarga Aisyiyah, Cikini.

Yuk, berbagi!

oleh : Diaz Setia

Catatan Merah Pendidikan Indramayu – Bagian I

Catatan Merah Pendidikan Indramayu – Bagian I

 

Gambar di atas merupakan sebagian potret kondisi salah satu sekolah afiliasi (Cagak Kroya) yang ada di kawasan Cikawung, Terisi, Indramayu. Kondisi yang sangat memprihatinkan, padahal sekolah ini ada di kawasan hutan kayu putih yang notabene merupakan daerah cakupan Perhutani.

Saat tim relawan Sajubu, Kaki Jabar, dan Pancadarma Indramayu berkunjung, semua siswa-siswi sekolah tersebut sedang difokuskan ke sekolah induk yakni SDN Cikawung 4 yang berjarak cukup jauh, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menempuh dengan menggunakan sepeda motor.

Sesampainya di sana tim yang tergabung dalam #KolaborAKSI #KakiJa8ar melakukan kegiatan bersama siswa-siswi untuk memompa semangat mereka agar tak merasa kecil hati karena bersekolah di pelosok desa. Teman-teman relawan juga membagikan buku, kaos kaki dan alat-alat olahraga untuk kebutuhan di sekolah. Setelah kegiatan ini, diharapkan komunitas lokal mulai peduli dengan kondisi pendidikan di kawasan sendiri tanpa harus terus menerus mengharapkan gerakan pemerintah yang terkesan lamban menangani cepatnya perubahan demi perubahan yang ada.

bersambung…

Buku Untuk Lahat

Buku Untuk Lahat

Jumlah buku yang dimilikinya tidak begitu banyak. Tak lebih dari 50 buku. Namun, bagi dua remaja ini tak menjadi alasan untuk tidak berbagi bahan bacaan. Diberinya label pada setiap buku, kemudian dibuatlah catatan tentang peminjaman buku. Maka, jadilah dua bersaudara ini mengelola perpustakaan pribadinya untuk berbagi bahan bacaan dengan teman-teman di kampungnya. Mereka adalah Delia dan Yosi, dua saudara sepupu siswa kelas XII SMAN 1 Merapi Barat.

Dela dan Yosi yang sudah mengelola perpustakaan pribadi

Adalah Desa Merapi, Kecamatan Merapi barat yang terletak di Jl. Lintas Sumatera KM. 20 Merapi. Pada 7 Februari 2016 lalu, teman-teman dari Satu Juta Buku Untuk Indonesia (Sajubu) melakukan kunjungan ke Desa tersebut. Kunjungan teman-teman dari Sajubu bertujuan untuk survey mengenai pengadaan Rumah Baca di Lahat. Tentunya, kedatangan mereka tidak sendiri, ditemani oleh teman-teman dari Sekolah Raya mereka mengenalkan tentang konsep rumah baca dan juga kenapa meski ada rumah baca. Kedatangan mereka, tentunya tak muluk-muluk ingin mengubah banyak hal di desa Merapi dengan cara mendirikan rumah baca. Tapi lebih kepada menemukan dan solidaritas dari antar komunitas yang ada di Desa Merapi dan sekitarnya.

“Salah satu bentuk mewujudkan impian anak-anak di Lahat adalah melalui rumah baca, ini untuk mengawali sebuah proses mencipta melalui tahapan membangun visi melalui sebuah mimpi melahirkan generasi cerdas anak-anak di Desa Merapi dan sekitarnya di tahun 2036, yaitu memulainya melalui gerakan rumah baca di tahun 2016,” Ini dikatakan oleh Pak Agustian dari Sekolah Raya. Harapan sederhana dari Pak Agus adanya rumah baca sebagai penyambung mimpi anak-anak di Desa Merapi. “Ruang kegairahan penyampaian pengetahuan berbentuk rumah baca menjadi modal utama dalam membangun desa.” Ujarnya lagi menegaskan tentang visi pembuatan rumah baca di hadapan teman-teman warga Desa Merapi yang siap sedia menjadi tonggak pemegang amanah rumah baca nantinya.

Komputer yang tak pernah dioperasikan selama 4 tahun sejak pengadaan. Mulai digunakan belum lama ketika ada guru honorer di SMPN 1 Merapi Barat. Adik-adik ini sedang belajar mengoperasikannya.

“Di sana, ada lab komputer yang tak jauh dari balai desa. Sayangnya, jarang dipakai karena anak-anak tak pandai mengoperasikannya.” Ujar Novi salah satu relawan Sajubu.

Kunjungan teman-teman dari Sajubu awal bulan lalu, melahirkan sebuah kesepakatan dari warga sekitar, bahwa akan didirikan rumah baca yang didukung oleh salah satu CSR perusahaan yang berada di dekat Desa Merapi. Diberi nama Humah Mbace Ayek Lematang, rumah baca ini diambil dari filosofi keberadaan sungai Lematang yang melintas di dua kota dan kabupaten yaitu Pagaralam, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim dan kota Prabumulih. Memiliki hulu di kaki Gunung Dempo dan berhilirkan Sungai Musi, tak pernah surut airnya bahkan di musim kemarau panjang. Diharapkan rumah baca ini akan terus mengalirkan kebaikan bagi setiap insan yang menyinggahinya.

Belajar dari kepedulian Delia dan Yosi, tentunya kami berharap bahwa Humah Mbace Ayek Lematang akan semakin memperluas jaringan buku bacaan bagi adik-adik di Desa Merapi untuk membaca buku. Pelaksanaan nantinya, Sajubu tentunya tidak sendirian. Tapi akan bekerja sama dengan teman-teman dari Buku Berkaki juga Blogger Hibah Buku untuk sama-sama mencari donasi buku dan nantinya akan melakukan label buku, menyampul buku, input data serta packing buku yang akan dilaksanakan pada tanggal, 6,9,12 Maret dan packing akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2016. Donasi buku dibuka dari 18 Februari-18 Maret 2016.

Untuk donasi buku, bisa dikirim ke alamat:
Perpustakaan Buku Berkaki (UP. Belantara Budaya Indonesia) 
Museum Kebangkitan Nasional.

Jl. Abdul Rachman Saleh no. 26
Senen-Jakarta Pusat 10410
Narahubung, Icha; 08113227777 (donasi buku)
Narahubung, Anazkia; 085945447914 ( input data, penyampulan, pelabelan dan packing)

Catatan Kecil Kampung Dwimulyo

Kunjungan semester tim Sajubu di akhir 2015 pun akhirnya harus berlabuh di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, tepatnya di Perpustakaan Anugrah yang terletak di Kampung Dwimulyo, Kecamatan Penawartama sekitar 120 km dari Ibukota Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung.

Mengapa Perpustakaan Anugrah?

Berawal dari kegagalan kordinasi dengan salah satu taman baca yang tak jauh posisinya dari Taman Nasional Way Kambas, kami anggap pihak penanggung jawab belum konsen untuk melakukan pengelolaan taman baca. Sedangkan buku-buku donasi sudah disiapkan baik dari Sajubu sendiri maupun pihak komunitas donatur buku lain seperti Buku Berkaki juga donasi perorangan. Merasa sayang dengan buku yang telah terkumpul, maka saya mewakili tim langsung membuka sistem aplikasi berbasis web milik Sajubu, sisfosajubu.jejaring.org. Mengetik keyword ‘lampung’ pada list perpustakaan dan akhirnya mendapati Perpustakaan Anugrah pada sisfosajubu sebagai salah satu pengaju berstatus non-aktif yang artinya perpustakaan ini belum merima kiriman buku dari Sajubu. Salah satu alasan kuat yang membuat saya harus menghubungi pihak penanggung jawab adalah Perpustakaan Anugrah mencantumkan link video YouTube kegiatan Kemah Perpustakaan yang terlihat menarik juga penghargaan yang diterima sebagai Tak kurang dua minggu dari jadwal keberangkatan saya baru menghubungi Pak Sutrisno, yang nomornya dijadikan narahubung Perpustakaan Anugrah pada sistem basis data informasi kami. Nasib baik bagi buku-buku yang telah disiapkan, mereka mendapatkan tempat baru di Lampung, Pak Sutrisno menyambut baik niat kedatangan tim Sajubu dan telah mengumumkan antusiasme teman-teman Desa Dwimulyo pada akun facebook di kali pertama kami mengubunginya.

Dari Jakarta ke Tulang Bawang

24 Desember 2015, jam 08.00 pagi para kuli kardus baru lengkap berkumpul di Terminal Kampung Rambutan. Dua tas besar berisi buku-buku yang dibawa oleh kuli kardus Sajubu (Saya, Kak Jeni, Kak Ije, Kak Hilda, Henita) beserta Ibu pun tersimpan rapi di bagasi bis Primajasa Kp.Rambutan – Merak, dilanjutkan dengan Kapal Ferry penyebrangan Selat Sunda, Merak – Bakaheuni. Tiba di Lampung pukul 16.00 WIB dan perjalanan menuju Perpustakaan Anugrah harus dilanjutkan lagi dengan travel sewaan rekomendasi Pak Sutrisno yang katanya sudah fasih daerah tujuan kami. Kurang lebih 250 km jarak tempuh dari Merak menuju Tulang Bawang, dan benar saja saran Pak Sutrisno agar kami memilih travel yang sudah disediakan saja karena sang pengemudi yang belakangan akrab kami sapa Pak Ardi berdomisili Mesuji telah kenal baik dengan tempat yang akan kami kunjungi, karena sebelumnya memang ada pertimbangan untuk menggunakan transportasi umum menuju Tulang Bawang dari Pelabuhan Merak.

Setelah beberapa kali berhenti, menaksir-naksir jalan dan rumah yang semakin masuk ke dalam perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta, akhirnya kami berhasil menemukan Rumah Pak Sutrisno yang sekaligus menjadi keberadaan Perpustakaan Anugrah tepat di pukul 12.00 malam. Terlihat wajah lega dari Pak Sutrisno beserta sekeluarga ketika menyambut kedatangan kami, mungkin beliau cemas tamu jauhnya tak kunjung sampai sedari sore. Bukannya langsung istirahat kami justru mengobrol banyak tentang kegiatan perpustakaan dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Penawartama, juga hal paling mendasar yang membuat saya penasaran sejak menemukan Perpustakaan Anugrah pada sistem informasi 1 Juta Buku yaitu tautan video Jambore Perpustakaan yang diikuti oleh ratusan siswa-siswi sekolah juga masyarakat sekitar. Mengapa mereka sangat bekerja keras untuk memprakarsai keberadaan perpustakaan ini?

Adik-adik belajar crafting flanel bersama Kak Ije

Menuju Kampung Literasi

Berlandaskan cita-cita Kampung Dwimulyo bahwa nantinya akan menjadi kampung yang memiliki masyarakat maju, kreatif, dan mandiri maka hal itu harus diretas dengan adanya akses menuju pendidikan dasar yang lebih baik. Para orangtua dibina baik untuk mengarahkan anak-anaknya agar pergi ke sekolah, dan meyakinkan bahwa para anak mereka tak cukup berhenti di pendidikan sekolah dasar saja. Kehadiran Perpustakaan Anugrah pada tahun 2011 bagaikan oase di tengah minimnya akses pendidikan bagi warga kampung Dwimulyo. Adalah Bu Insaf Setia sebagai penanggungjawabnya yang juga sebagai Kepala TK di Kampung Dwimulyo, yaitu istri dari Pak Sutrisno selaku orang pertama yang berkomunikasi dengan tim Sajubu. Pak Sutrisno berprofesi aktif di KUPT Dinas Pendidikan Kecamatan Rawa Jitu dan banyak memahami seluk beluk dunia pendidikan di Provinsi Lampung terutama wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Selain mereka berdua, ada Pak Ikhlas Setia yaitu kakak kandung dari Bu Insaf Setia yang banyak hilir mudik di dunia pendidikan wilayah Kabupaten Mesuji. Di bawah semangat dan antusiasme mereka bertiga, masyarakat Kampung Dwimulyo digiring untuk menuju kampung literasi yang aktif dan mandiri hingga pada tahun 2015 kemarin akhirnya Perpustakaan Anugrah dinobatkan menjadi Perpustakaan Terbaik di Kabupaten Tulang Bawang dan berhasil menyabet sebagai Juara I dalam Lomba Perpustakaan Desa tingkat Provinsi Lampung.

Semangat Baru

Kedatangan Sajubu yang disambut baik oleh semua pihak mulai dari anak-anak, bapak ibu hingga para pemangku kepentingan di Desa adalah bukti bahwa cita-cita mereka tidaklah main-main. Pengorbanan waktu, materi, dan lainnya membuat tersadar bahwa yang kami lakukan belum apa-apa, sejauh mana makna relawan yang telah melekat dalam diri para pegiat literasi. Dalam lamunan sempat mengingat kawan-kawan Buku Berkaki, Hibah Buku, Buku Untuk Papua, Buku Bagi NTT, dan Sagu Maluku yang selama ini banyak berkegiatan bersama Sajubu. Banyak kenyataan diluar sana yang menyatakan bahwa belum saatnya kita berhenti, karena boleh jadi semangat yang kita sampaikan lewat buku-buku yang dikirimkan itu menjadi bahan bakar baru bagi mereka yang sedang berjuang di kampung-kampung, pada setiap sudut desa di berbagai wilayah Indonesia demi masa depan adik-adik kita menuju bangsa yang lebih bermartabat.

Buku untuk Peprustakaan Anugrah

 

Tabik!

Oleh : Novita Anggraini

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Berceloteh di RPK 96.3 FM

Awal Mei 2014, Kak Diaz dihubungi Kak Selvi dari Goodreads Indonesia sehabis packing paket buku di Ruang Baca Kota, bertanya apakah kawan-kawan ‘1 Juta Buku Untuk Anak-anak Indonesia’ berkenan datang memenuhi undangan bincang komunitas di hari Sabtu pagi tanggal 17 Mei 2014.

Konfirmasi ke Kak Selvi dong, kenapa sih tertarik undang Sajubu, dan dia bilang kalau di hari Sabtu pagi RPK 96.3 FM ada acara #KlubSiaranGRI yang biasanya membahas soal buku tertentu. Nah karena soal buku, diundanglah Sajubu sebagai salah satu komunitas yang berkecimpung disitu. Pas ditanya soal apa saja yang harus disiapkan, eh malah dijawab “nanti yang cerewet aja yah”, hahaha. Loh itu sih ndak usah disuruh Kak 😀

Hingga pada 17 Mei 2014, berangkatlah Saya, Bang Eja, dan Kak Diaz mewakili relawan Sajubu lainnya, harusnya berlima sih ini, tapi yang lain agak gak rela disuruh bangun pagi di hari Sabtu karena memang kita harus siaran tepat jam 07.00 WIB. Hehe

Selain Kak Selvi, ternyata ada Kak Lia juga yang ikut mewawancarai kita. Sesi pertama wawancara ditanya soal Sejarah terbentuknya Sajubu, ya kami pun menyebutkan kalau ini buah pemikiran Bang Darwis a.k.a Tere Liye pada tahun 2010 silam (maaf ya Bang kalau harus disebut-sebut, kan memang begitu adanya) bersama beberapa penyuka buku di Kantor Penerbit Republika, Pejaten Village. Bagian ini banyak dijawab sama Bang Eja, maklum deh kalau soal sejarah kan pasti yang berumur lebih ngerti. Hihi

Semangat paginya Kak Lia dan Relawan Sajubu

Lanjut sesi kedua dan seterusnya, beneran deh Kak Selvi dan Kak Lia ini jago banget buat kita bawel dan gak lagi shy-shy-cat, jadi terasa gak on air karena memang pas off air obrolannya malah tambah seru.
Ada sms dan telepon masuk juga di tengah sesi untuk sekadar tanya dan memberikan semangat. Terima kasih 🙂

Yang jelas, terima kasih banyak untuk Kak Selvi dan Kak Lia karena sudah undang Sajubu untuk bincang serba-serbi kegiatan yang dilakukan, tepat saat Hari Buku Nasional pula. Semoga dengan begitu makin banyak orang yang tahu tentang kegiatan yang kami lakukan, membantu kami dalam menyebarkan informasi. Tetap berjaya untuk #KlubSiaranGRI-nya ya Kakak-Kakak. Tetap semangat, dan teruuuus semangat membaca buku yang menginspirasi yah!:)

Ki-Ka : Bang Eja, Kak Lia, Kak Selvi, Saya, Kak Diaz

Salam,
~dari kami yang selalu percaya bahwa Sebuah Buku Untuk Sejuta Mimpi

Fun Library Management di Asrama Sunan Giri

Fun Library Management di Asrama Sunan Giri

“Manajemen perpustakaan merupakan hal fundamental yang harus dibenahi untuk membangun sebuah peradaban besar”

1 Mei 2014, Kak Kiki, salah satu salah satu relawan gerakan 1 Juta Buku untuk Anak-anak Indonesia berkesempatan menjadi narasumber dalam pelatihan Fun Management Library, bertempat di masjid asrama YAPI (Yayasan Asrama Pemuda Indonesia) Sunan Giri (@asramagiri), Rawamangun. Peserta pelatihan adalah penghuni asrama, yang meskipun sebagian besar adalah mahasiswa UNJ. Acara pelatihan memang rutin diadakan tahunan sebagai salah satu rangkaian dari regenerasi pengurus asrama Sunan Giri, tetapi setiap pergantian kepengurusan tema pelatihannya berbeda-beda tergantung kepada kebutuhan. Nah, karena tahun ini kakak-kakak asrama berniat memfokuskan agenda untuk kembali mengaktifkan perpustakaan asrama, maka tema yang dipilih adalah Fun Library Management.

Sebelumnya, Kak Kiki telah lebih dulu mendapat training Fun Library Management yang diadakan oleh teman-teman Goodreads Indonesia, bertempat di ruang audio visual Museum Bank Mandiri. Sehingga begitu Sajubu mendapat undangan untuk menjadi narasumber Fun Library Management, dikirimlah Kak Kiki untuk menularkan pengetahuannya.

IMG_20140501_112524
Teman-teman asrama Sunan Giri antusias menyimak Kak Kiki

Jam 11 siang, pelatihan dimulai, peserta pelatihan sebanyak 13 orang, masing-masing membawa laptop dengan akses internetnya, karena merupakan syarat wajib pelatihan. Peserta pelatihan terlihat antusias menyimak satu demi satu penjelasan dari Kak Kiki dan langsung dibimbing untuk mempraktekan di laptop masing-masing.

Fun Library Management adalah pelatihan mengenai pengelolaan perpustakaan berbasis IT. Sebuah aplikasi bernama “psenayan” mampu menampung semua informasi mengenai buku-buku koleksi perpustakaan. Kegiatan pengelolaan perpustakaan dengan aplikasi “psenayan” berprinsip menyimpan semua informasi mengenai koleksi buku-buku perpustakaan ke dalam format digital, sehingga akan memudahkan pengunjung maupun pengurus perpustakaan dalam mencari atau melacak koleksi perpustakaan. Secara garis besar terdapat beberapa menu dalam aplikasi tersebut, yaitu 1) Bibliografi, untuk menginput detail informasi buku (seperti judul, cover buku, tahun terbit, jumlah halaman, sinopsis, kode buku, dll), 2) Circulation, memuat setiap transaksi buku di perpustakaan. Contohnya seperti transaksi peminjaman buku maupun pengembalian buku, 3) Stock Take, memuat stok buku yang tersedia di perpustakaan, dan yang terakhir adalah 4) Membership, merupakan sebuah menu untuk mengelola data keanggotaan perpustakaan

IMG_20140501_121932
Penyerahan sertifikat narasumber dan kenang-kenangan dari Asrama Sunan Giri

Namun aplikasi tersebut hanya bisa digunakan dalam satu PC, dan tidak dapat berpindah-pindah PC. Artinya ketika pada awalnya data-data perpus menggunakan PC yang didalamnya telah terinstall aplikasi “psenayan”, maka seterusnya pengelolaan perpustakaan tersebut juga harus menggunakan PC tersebut. Meskipun beberapa PC telah diinstall aplikasi tersebut, namun tidak bisa membuka informasi yang telah diinput di PC awal.

IMG_20140501_124551
Koleksi buku Perpustakaan Asrama Sunan Giri

Tak terasa 2 jam berlalu, Kak Kiki menyudahi pelatihan, teman-teman asrama Sunan Giri berniat mengaplikasikan manajemen perpustakaan berbasis IT tersebut untuk perpustakaan asrama. Setelah penyerahan sertifikat narasumber dan kenang-kenangan dari pengurus asrama, kami diajak untuk mengunjungi perpustakaan asrama. Perpustakaan tersebut nantinya akan dibuka untuk umum, karena kebetulan lingkungan asrama Sunan Giri dikelilingi oleh lingkungan pendidikan (terdapat Paud dan SD disekitarnya), namun sebelum itu pengurus asrama terlebih dahulu ingin membenahi sistem perpustakaan. Meski berlangsung diwaktu yang singkat, semoga pelatihan tersebut bermanfaat!

Untitled

Semangat untuk semua pengurus perpustakaan yang sedang mengambil andil untuk turut membangun sebuah peradaban besar!