Buku Untuk Lahat

Buku Untuk Lahat

Jumlah buku yang dimilikinya tidak begitu banyak. Tak lebih dari 50 buku. Namun, bagi dua remaja ini tak menjadi alasan untuk tidak berbagi bahan bacaan. Diberinya label pada setiap buku, kemudian dibuatlah catatan tentang peminjaman buku. Maka, jadilah dua bersaudara ini mengelola perpustakaan pribadinya untuk berbagi bahan bacaan dengan teman-teman di kampungnya. Mereka adalah Delia dan Yosi, dua saudara sepupu siswa kelas XII SMAN 1 Merapi Barat.

Dela dan Yosi yang sudah mengelola perpustakaan pribadi

Adalah Desa Merapi, Kecamatan Merapi barat yang terletak di Jl. Lintas Sumatera KM. 20 Merapi. Pada 7 Februari 2016 lalu, teman-teman dari Satu Juta Buku Untuk Indonesia (Sajubu) melakukan kunjungan ke Desa tersebut. Kunjungan teman-teman dari Sajubu bertujuan untuk survey mengenai pengadaan Rumah Baca di Lahat. Tentunya, kedatangan mereka tidak sendiri, ditemani oleh teman-teman dari Sekolah Raya mereka mengenalkan tentang konsep rumah baca dan juga kenapa meski ada rumah baca. Kedatangan mereka, tentunya tak muluk-muluk ingin mengubah banyak hal di desa Merapi dengan cara mendirikan rumah baca. Tapi lebih kepada menemukan dan solidaritas dari antar komunitas yang ada di Desa Merapi dan sekitarnya.

“Salah satu bentuk mewujudkan impian anak-anak di Lahat adalah melalui rumah baca, ini untuk mengawali sebuah proses mencipta melalui tahapan membangun visi melalui sebuah mimpi melahirkan generasi cerdas anak-anak di Desa Merapi dan sekitarnya di tahun 2036, yaitu memulainya melalui gerakan rumah baca di tahun 2016,” Ini dikatakan oleh Pak Agustian dari Sekolah Raya. Harapan sederhana dari Pak Agus adanya rumah baca sebagai penyambung mimpi anak-anak di Desa Merapi. “Ruang kegairahan penyampaian pengetahuan berbentuk rumah baca menjadi modal utama dalam membangun desa.” Ujarnya lagi menegaskan tentang visi pembuatan rumah baca di hadapan teman-teman warga Desa Merapi yang siap sedia menjadi tonggak pemegang amanah rumah baca nantinya.

Komputer yang tak pernah dioperasikan selama 4 tahun sejak pengadaan. Mulai digunakan belum lama ketika ada guru honorer di SMPN 1 Merapi Barat. Adik-adik ini sedang belajar mengoperasikannya.

“Di sana, ada lab komputer yang tak jauh dari balai desa. Sayangnya, jarang dipakai karena anak-anak tak pandai mengoperasikannya.” Ujar Novi salah satu relawan Sajubu.

Kunjungan teman-teman dari Sajubu awal bulan lalu, melahirkan sebuah kesepakatan dari warga sekitar, bahwa akan didirikan rumah baca yang didukung oleh salah satu CSR perusahaan yang berada di dekat Desa Merapi. Diberi nama Humah Mbace Ayek Lematang, rumah baca ini diambil dari filosofi keberadaan sungai Lematang yang melintas di dua kota dan kabupaten yaitu Pagaralam, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim dan kota Prabumulih. Memiliki hulu di kaki Gunung Dempo dan berhilirkan Sungai Musi, tak pernah surut airnya bahkan di musim kemarau panjang. Diharapkan rumah baca ini akan terus mengalirkan kebaikan bagi setiap insan yang menyinggahinya.

Belajar dari kepedulian Delia dan Yosi, tentunya kami berharap bahwa Humah Mbace Ayek Lematang akan semakin memperluas jaringan buku bacaan bagi adik-adik di Desa Merapi untuk membaca buku. Pelaksanaan nantinya, Sajubu tentunya tidak sendirian. Tapi akan bekerja sama dengan teman-teman dari Buku Berkaki juga Blogger Hibah Buku untuk sama-sama mencari donasi buku dan nantinya akan melakukan label buku, menyampul buku, input data serta packing buku yang akan dilaksanakan pada tanggal, 6,9,12 Maret dan packing akan dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2016. Donasi buku dibuka dari 18 Februari-18 Maret 2016.

Untuk donasi buku, bisa dikirim ke alamat:
Perpustakaan Buku Berkaki (UP. Belantara Budaya Indonesia) 
Museum Kebangkitan Nasional.

Jl. Abdul Rachman Saleh no. 26
Senen-Jakarta Pusat 10410
Narahubung, Icha; 08113227777 (donasi buku)
Narahubung, Anazkia; 085945447914 ( input data, penyampulan, pelabelan dan packing)

Catatan Kecil Kampung Dwimulyo

Kunjungan semester tim Sajubu di akhir 2015 pun akhirnya harus berlabuh di Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, tepatnya di Perpustakaan Anugrah yang terletak di Kampung Dwimulyo, Kecamatan Penawartama sekitar 120 km dari Ibukota Provinsi Lampung, Kota Bandar Lampung.

Mengapa Perpustakaan Anugrah?

Berawal dari kegagalan kordinasi dengan salah satu taman baca yang tak jauh posisinya dari Taman Nasional Way Kambas, kami anggap pihak penanggung jawab belum konsen untuk melakukan pengelolaan taman baca. Sedangkan buku-buku donasi sudah disiapkan baik dari Sajubu sendiri maupun pihak komunitas donatur buku lain seperti Buku Berkaki juga donasi perorangan. Merasa sayang dengan buku yang telah terkumpul, maka saya mewakili tim langsung membuka sistem aplikasi berbasis web milik Sajubu, sisfosajubu.jejaring.org. Mengetik keyword ‘lampung’ pada list perpustakaan dan akhirnya mendapati Perpustakaan Anugrah pada sisfosajubu sebagai salah satu pengaju berstatus non-aktif yang artinya perpustakaan ini belum merima kiriman buku dari Sajubu. Salah satu alasan kuat yang membuat saya harus menghubungi pihak penanggung jawab adalah Perpustakaan Anugrah mencantumkan link video YouTube kegiatan Kemah Perpustakaan yang terlihat menarik juga penghargaan yang diterima sebagai Tak kurang dua minggu dari jadwal keberangkatan saya baru menghubungi Pak Sutrisno, yang nomornya dijadikan narahubung Perpustakaan Anugrah pada sistem basis data informasi kami. Nasib baik bagi buku-buku yang telah disiapkan, mereka mendapatkan tempat baru di Lampung, Pak Sutrisno menyambut baik niat kedatangan tim Sajubu dan telah mengumumkan antusiasme teman-teman Desa Dwimulyo pada akun facebook di kali pertama kami mengubunginya.

Dari Jakarta ke Tulang Bawang

24 Desember 2015, jam 08.00 pagi para kuli kardus baru lengkap berkumpul di Terminal Kampung Rambutan. Dua tas besar berisi buku-buku yang dibawa oleh kuli kardus Sajubu (Saya, Kak Jeni, Kak Ije, Kak Hilda, Henita) beserta Ibu pun tersimpan rapi di bagasi bis Primajasa Kp.Rambutan – Merak, dilanjutkan dengan Kapal Ferry penyebrangan Selat Sunda, Merak – Bakaheuni. Tiba di Lampung pukul 16.00 WIB dan perjalanan menuju Perpustakaan Anugrah harus dilanjutkan lagi dengan travel sewaan rekomendasi Pak Sutrisno yang katanya sudah fasih daerah tujuan kami. Kurang lebih 250 km jarak tempuh dari Merak menuju Tulang Bawang, dan benar saja saran Pak Sutrisno agar kami memilih travel yang sudah disediakan saja karena sang pengemudi yang belakangan akrab kami sapa Pak Ardi berdomisili Mesuji telah kenal baik dengan tempat yang akan kami kunjungi, karena sebelumnya memang ada pertimbangan untuk menggunakan transportasi umum menuju Tulang Bawang dari Pelabuhan Merak.

Setelah beberapa kali berhenti, menaksir-naksir jalan dan rumah yang semakin masuk ke dalam perkebunan sawit milik sebuah perusahaan swasta, akhirnya kami berhasil menemukan Rumah Pak Sutrisno yang sekaligus menjadi keberadaan Perpustakaan Anugrah tepat di pukul 12.00 malam. Terlihat wajah lega dari Pak Sutrisno beserta sekeluarga ketika menyambut kedatangan kami, mungkin beliau cemas tamu jauhnya tak kunjung sampai sedari sore. Bukannya langsung istirahat kami justru mengobrol banyak tentang kegiatan perpustakaan dan kehidupan masyarakat di Kecamatan Penawartama, juga hal paling mendasar yang membuat saya penasaran sejak menemukan Perpustakaan Anugrah pada sistem informasi 1 Juta Buku yaitu tautan video Jambore Perpustakaan yang diikuti oleh ratusan siswa-siswi sekolah juga masyarakat sekitar. Mengapa mereka sangat bekerja keras untuk memprakarsai keberadaan perpustakaan ini?

Adik-adik belajar crafting flanel bersama Kak Ije

Menuju Kampung Literasi

Berlandaskan cita-cita Kampung Dwimulyo bahwa nantinya akan menjadi kampung yang memiliki masyarakat maju, kreatif, dan mandiri maka hal itu harus diretas dengan adanya akses menuju pendidikan dasar yang lebih baik. Para orangtua dibina baik untuk mengarahkan anak-anaknya agar pergi ke sekolah, dan meyakinkan bahwa para anak mereka tak cukup berhenti di pendidikan sekolah dasar saja. Kehadiran Perpustakaan Anugrah pada tahun 2011 bagaikan oase di tengah minimnya akses pendidikan bagi warga kampung Dwimulyo. Adalah Bu Insaf Setia sebagai penanggungjawabnya yang juga sebagai Kepala TK di Kampung Dwimulyo, yaitu istri dari Pak Sutrisno selaku orang pertama yang berkomunikasi dengan tim Sajubu. Pak Sutrisno berprofesi aktif di KUPT Dinas Pendidikan Kecamatan Rawa Jitu dan banyak memahami seluk beluk dunia pendidikan di Provinsi Lampung terutama wilayah Kabupaten Tulang Bawang. Selain mereka berdua, ada Pak Ikhlas Setia yaitu kakak kandung dari Bu Insaf Setia yang banyak hilir mudik di dunia pendidikan wilayah Kabupaten Mesuji. Di bawah semangat dan antusiasme mereka bertiga, masyarakat Kampung Dwimulyo digiring untuk menuju kampung literasi yang aktif dan mandiri hingga pada tahun 2015 kemarin akhirnya Perpustakaan Anugrah dinobatkan menjadi Perpustakaan Terbaik di Kabupaten Tulang Bawang dan berhasil menyabet sebagai Juara I dalam Lomba Perpustakaan Desa tingkat Provinsi Lampung.

Semangat Baru

Kedatangan Sajubu yang disambut baik oleh semua pihak mulai dari anak-anak, bapak ibu hingga para pemangku kepentingan di Desa adalah bukti bahwa cita-cita mereka tidaklah main-main. Pengorbanan waktu, materi, dan lainnya membuat tersadar bahwa yang kami lakukan belum apa-apa, sejauh mana makna relawan yang telah melekat dalam diri para pegiat literasi. Dalam lamunan sempat mengingat kawan-kawan Buku Berkaki, Hibah Buku, Buku Untuk Papua, Buku Bagi NTT, dan Sagu Maluku yang selama ini banyak berkegiatan bersama Sajubu. Banyak kenyataan diluar sana yang menyatakan bahwa belum saatnya kita berhenti, karena boleh jadi semangat yang kita sampaikan lewat buku-buku yang dikirimkan itu menjadi bahan bakar baru bagi mereka yang sedang berjuang di kampung-kampung, pada setiap sudut desa di berbagai wilayah Indonesia demi masa depan adik-adik kita menuju bangsa yang lebih bermartabat.

Buku untuk Peprustakaan Anugrah

 

Tabik!

Oleh : Novita Anggraini